Mentari pagi bersinar terang menyinari Desa Ambarsari. Di sana tinggal seorang gadis bernama Fatma. Hari ini Fatma ingin bermain bersama teman-temannya yang bernama Maya dan Wenda.
Mereka hendak ke hutan untuk mencari serangga dan buah-buahan yang lezat. Di perjalanan, mereka melihat sebuah rumah yang baru saja dihuni teman baru mereka yang berasal dari kota bernama Cindy.
“Assalamualaikum, Cindy,” sapa mereka.
Terlihat Cindy sedang bermain dengan kucing berwarna abu-abu bernama Chimo di halaman rumah. Wajahnya terlihat murung tidak bersemangat.
“Waalaikumsalam.” Cindy menghampiri mereka sambil menggendong kucingnya.
“Iih…, lucu sekali sih kucingnya.” Maya mengelus gemas kucing itu.
“Kalian ingin pergi ke mana?” tanya Cindy.
“Kami ingin pergi ke hutan. Kamu ingin ikut?” Fatma mengajak Cindy.
“Apakah menyenangkan bermain di hutan?” Cindy tampak ragu. Cindy sebenarnya tidak senang tinggal di desa, karena tidak ada mall dan tempat bermain.
“Tentu saja !” jawab Maya.
“Apa tidak berbahaya?” Cindy masih ragu.
“Sudahlah. Ayo kita pergi kalau dia tidak ingin ikut.” Wenda mulai tidak sabar dengan Cindy.
Akhirnya, Cindy pun ikut bersama mereka. Setelah mendapat izin dari ibunya, mereka pun berjalan menuju hutan dengan Chimo. Ibu berpesan jangan masuk hutan terlalu dalam karena cukup berbahaya. Ada batas peringatan yang di pasang di sebuah papan.
Setelah berjalan cukup lama, mereka pun tiba. Hutan itu bernama Rimba Astro. Terdapat banyak buah-buahan yang rasanya manis dan lezat.
“Wah, sejuk sekali!” Cindy merasa takjub begitu memasuki Rimba Astro. Dia merasakan udara yang sejuk dan tenang dengan semilir angin yang berhembus lembut. Terlihat daun-daun bergoyang dan berguguran diterpa angin.
“Benar …. Setiap hari libur kami selalu bermain dan mencari berbagai macam serangga!” seru Fatma sambil mengambil buah ciplukan yang sudah matang dan memberikannya kepada Cindy.
“Emmm, manisnya!” Cindy mengunyah ciplukan yang baru kali ini dia makan.
“Meeoonngg!” Chimo terlihat asyik bermain dengan capung yang warnannya sangat indah. Capung itu terbang dengan lincah sehingga tanpa disadari lama-lama terbang menuju hutan bagian dalam.
“Chimoo!” teriak Cindy menyadari Chimo yang mulai berlari dan masuk ke dalam hutan. Cindy berlari sekencang mungkin untuk menangkap Chimo.
“Cindy… Jangan!”
“Gawat! Bagaimana ini?” Maya merasa bingung dan cemas.
“Ayo, kita kejar Cindy!” Tanpa pikir panjang Fatma langsung berlari mencari Cindy. Mau tidak mau Maya dan Wenda pun mengikutinya.
“Chiimoo! Kembali…!” Cindy terus memanggil Chimo.
Mereka berlari cukup jauh masuk ke dalam hutan, sehingga sampai di sebuah pohon besar yang menjulang tinggi. Mungkin pohon itu sudah berusia ratusan tahun dengan akar yang mencuat ke permukaan. Mereka juga melihat aliran sungai yang airnya sangat jernih.
Mereka mendengar suara burung saling bersautan di kesunyian hutan. Juga garengpun atau tonggeret yang merupakan tanda musim hujan telah usai dan bersuara terus menerus dengan sangat keras. Semua hal itu menambah suasana hutan menjadi riuh.
“Waah, indah sekali!” Fatma merasa takjub dengan pemandangan yang baru pertama kali dia lihat. Mereka tidak menduga, bahwa di dalam Rimba Astro yang katanya berbahaya itu terdapat tempat yang sangat indah.
Cindy dan lainnya pun ternganga tanpa bisa berkata-kata. Mereka mengagumi keindahan alam Rimba Astro. Ada taman bunga yang ditumbuhi aneka bunga hutan seperti bunga bakung, kantung semar, dan anggrek hutan liar. Di sana terdapat juga berbagai macam hewan yang hidup berdampingan. Pohon dan buah-buahan juga tumbuh untuk memenuhi kebutuhan para hewan.
“Whuuss…” Semilir angin yang berhembus membuat mereka merasa nyaman.
“Kira-kira pohon apa ya ini?” Maya mendekati dan memegang pohon besar itu.
“Yang paling penting, ini tempat apa teman-teman?” Cindy mendekati kerumunan rusa yang sedang makan.
“Aku ingat!” Wenda berseru sambil menepukkan kedua tanganya. “Samar-samar aku pernah mendengar cerita nenek yang berbicara dengan ayahku tentang pohon kehidupan di Rimba Astro,” cerita Wenda sambil mengingat-ingat sesuatu.
“Pohon Kehidupan!” gumam Fatma.
“Iya. Aku ingat. Aku pernah membaca buku catatan kakekku tentang pohon kehidupan yang menopang kehidupan di Desa Ambarsari ini!” Maya berseru kuat begitu mengingat buku catatan kakeknya yang tidak sengaja dia temukan.
“Tertulis bahwa pohon ini sudah hidup ratusan tahun bahkan sebelum Desa Ambarsari ada. Pohon kehidupan inilah yang membuat buah-buahan di Rimba Astro menjadi terasa manis dan lezat.” Maya menjelaskan panjang lebar.
“Tempat ini sangat indah. Namun, mengapa para warga berkata sangat berbahaya?” tanya Cindy heran.
“Para pendiri Desa Ambarsari mungkin menjaga Rimba Astro supaya tidak dirusak oleh manusia” jawab Fatma.
“Benar. Jika Rimba Astro dimasuki orang-orang yang serakah, mereka pasti hanya ingin mengambil hasil hutan sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan keseimbangan alam.” Maya menambahkan.
“Berarti kita juga harus menjaga rahasia ini. Jangan sampai orang-orang serakah itu mengetahui kebenaran dari Rimba Astro.” Cindy berusaha menyimpulkan dengan apa yang terjadi.
Mereka pun akhirnya bersantai sambil duduk di bawah teduhnya pohon kehidupan. Sesekali mereka mengejar hewan untuk diajak bermain. Saat sedang asyik mengejar hewan, tiba-tiba Wenda terjatuh sehingga kakinya terkilir.

“Aduh… Sakit sekali,” Wenda meringis kesakitan.
“Kamu tidak apa-apa kan, Wenda? mana yang sakit?” Fatma mengobati Wenda dengan ramuan herbal. Dia mengambil beberapa daun kurese’ dan mencucinya sampai bersih. Setelah dicuci, daun itu pun di tumbuk halus sampai mengeluarkan sari air.
“Tahan ya Wenda, mungkin akan perih sedikit,” ucap Fatma sambil menempelkan ramuan itu ke kaki Wenda.
“ Aduh…. Sakit.” Wenda menangis karena sangat perih.
“Tahan. Sebentar lagi juga sembuh kok.” Fatma mengipasi ramuan yang sudah dia tempelkan supaya cepat kering.
“Alhamdulillah. Rasanya sudah tidak terlalu sakit lagi.” Wenda merasa lebih baik.
“Terima kasih ya!” Ucap Wenda perlahan mulai berdiri.
“Sama-sama.” Balas Fatma sambil tersenyum.
Mereka pun kembali bersantai di bawah teduhnya pohon kehidupan. Wenda yang kakinya tadi sakit, sekarang sudah sembuh. Suara alarm di jam tangan Fatma mengingatkan bahwa keempat gadis itu untuk segera pulang.
“Lalu bagaimana cara kita pulang?” tanya Wenda kebingungan sambil mencari jalan pulang.
“Kenapa semuanya tertutup semak belukar? Bagaimana kita pulang?” Fatma merasa sedikit cemas.
“Meeoonggg!” Tiba-tiba Chimo berulah lagi.
Chimo kembali mengejar capung yang tadi. Capung itu terbang pelan, seolah menunjukkan jalan.
“Ayo ikuti Chimo!” seru Fatma.
Mereka mengikuti Chimo dan akhirnya menemukan jalan keluar dari hutan.
“Sepertinya Rimba Astro tahu cara melindungi dirinya,” kata Cindy.
“Iya, dan kita juga harus ikut menjaganya,” jawab Fatma.
Cindy tersenyum. Ia tak lagi merasa bosan didesa itu. Petualangan hari itu membuatnya sadar dan jatuh cinta pada alam. (*)


TENTANG PENULIS: Nama saya Naharu Tajalla atau biasa dipanggil dengan Nala. Saya lahir di Bandar Lampung pada 6 September 2013. Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara, dibesarkan dalam keluarga sederhana yang tinggal di sebuah kota kecil wilayah lereng Gunung Lawu, Magetan, Jawa Timur. Ayahku bekerja sebagai Perangkat Desa dan ibuku seorang Ibu Rumah Tangga. Sejak kecil, saya selalu diajarkan untuk rajin beribadah, jujur, belajar dengan rajin dan ramah terhadap sesama. Saya adalah siswi kelas VI di SD Islamiyah Magetan. Selain menyukai pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, saya juga hobi menulis, menggambar dan menyanyi untuk menghilangkan kejenuhan. Melalui kegiatan tersebut, saya bisa mengekspresikan diri dan menemukan kebahagiaan yang lebih indah dan luas.

CERPEN ANAK: Tayang dua mingguan Setiap Sabtu, bergantian dengan CERPEN SABTU. Penulisnya khusus untuk anak-anak usia SD dan SMP; dia bisa saja anak kita, keponakan kita, muid-murid kita di sekolah atau cucu kita. Panjang cerpen anak cukup antara 500 – 1000 kata. Redaksi menyediakan honorarium Rp 100.000,- Sertakan foto diri, bio narasi singkat, nomor rekening bank, gambar atau 3-4 ilustrasi yang mendukung – boleh lukisan karya sendiri atau ChatGPT. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek Cerpen Anak. Ayo, ditunggu. Silakan dikirim. Kalau mau baca cerpen anak yang sudah tayang, klik gambar di bawah ini ya:



