Puisi Minggu: 5 Puisi Bara Pattyradja Tentang Lamaholot

Hidup dan dihidupi oleh alam Indonesia Timur yang separuhnya air, secara fundamental memengaruhi kesadaran dunia saya, terutama menulis puisi.

Dari laut, segala pahit manis pengembaraan bermula. Membuat dunia terhubung. Hingga tubuh kebudayaan dari berbagai suku bangsa dapat melebur. Pertemuan dalam kutub kebudayaan semacam itulah, menurut hemat saya, telah memungkinkan berbagai karya-karya besar lahir di dunia hingga tegaklah peradaban.

Ketika saya melaut, saya menyair. Di laut, saya tidak hanya memancing ikan. Tapi, saya juga memancing puisi. Betapa takjub dan saya menimba ilham dari hal-hal sederhana.

Dengan biduk kecil saya sering mengitari samudra luas. Menyaksikan betapa alam maha dahsyat. Dan manusia cuma sepotong buih. Di hadapan samudra, terbentang cakrawala. Puisi, menangkap horizon nilainya yang egaliterian.

Menyelami tanda-tanda alam, memungkinkan saya berpegang pada kompas dan haluan tertentu saat berjuang mengkonstruksi estetika tubuh puisi. Cakrawala yang saya lihat, amis ikan di udara yang saya hela, panas matahari yang membakar kulit, warna laut yang pekat, ombak, badai dan puting beliung, senja serta desir anginnya yang riuh, membangkitkan rasa heran pada dunia dan juga menyulut api pengetahuan yang bersifat unikum.

Berbagai pengalaman empirik, kemudian berkarat dalam perjalanan hidup selanjutnya. Lambat laun moment-moment puitik tersebut hadir kembali secara visual dan membentuk semacam pita-pita kesadaran baru. Barangkali hal seperti inilah yang disebut dengan istilah pengendapan, sebuah proses kristalisasi, sublimasi yang katarsis.

Setelah melampaui fase pengendapan, pada sebuah entah, kata-kata merasuki benak dan pikiran saya. Begitu liat. Liar. Sebelum akhirnya lahir sebagai anak kandung spiritual bernama puisi.

Begitulah saya kira, perjuangan setiap penyair dalam menemukan bahasa dan daya ucapnya yang geniun memang berbeda-beda secara fundamental.

Puisi-puisi saya merupakan puisi yang berayun di antara dua kutub kesadaran, dua kosmologi budaya yang berhimpitan, Timur dan Barat. Rasionalisme dan Mistisisme.

Secara tekstual dan kontekstual, saya mencoba menjahit basis values lokal wisdom dan modernitas sebagai upaya literer untuk mempertahankan indentitas kultural dan suku bangsa yang kini terasa makin gamang digerus zaman. Sebab kita hidup dalam fase ketiadaan makna. Di mana kita gagap dan gugup menjadi orang Flores, Sunda, Bugis, Maluku, Jawa dll atau bahkan menjadi Indonesia. Kita, atas nama kemajuan zaman, kadang bahkan lebih barat dari Barat, lebih korea dari Korea!

Demikianlah, puisi bagi saya adalah sebuah jalan pulang menuju bahasa Ibu yang mengikat lidah kita. Bukan cuma pada level diksi belaka. Tetapi, merambah hingga kepada pandangan dunianya.

Silakan menikmati 5 puisi saya tentang Lamaholot. Jangan lupa, disiapkan kopi terbaikmu, kawan! []

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. Mantap. Banyak muatan bahasa lokal. Semangat terus untuj berkarya. Dan untuk golagongkrearif.com, semoga konsisten menyebarkan puisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==