Syamsul Bahri
SEPUCUK KISAH IBU BUDI
Masuklah ke kelas, anak-anakku. Ibu Budi harus menyiapkan peralatan mengajar. Berkas-berkas administrasi yang membelit leher Ibu Budi.
Proyek-proyek dan penilaian. Beberapa hutang yang terus Ibu gali setiap harinya. Ibu Budi hanya punya beberapa butir nasi untuk beberapa hari ke depan. Anak-anakku duduklah yang manis dan perhatikan Ibu Budi.
Hari ini Ibu akan mengajarkan bagaimana caranya menghitung uang tanpa ilmu Matematika tapi cukup dengan ilmu komunikasi saja. Kalian bisa membedakan mana yang menghitung uang dengan uang dan menghitung uang tanpa ada miskomunikasi itu akan lebih berbahaya anak-anakku. Paham!
Dengarkan, anak-anakku. Sebentar lagi jam istirahat akan berbunyi. Waktu Ibu Budi beristirahat tapi ia tak akan bisa sebab matanya masih berupa angka-angka yang menggantung dan tak mungkin selesai.
Kerjakanlah tugas dari Ibu Budi, membuat komunikasi beda agama dan mencatat konflik apa saja yang sering terjadi dalam hal tersebut. Ibu Budi akan permisi sebentar saja, sebentar saja, Nak. Jangan pernah kalian tanyakan, mengapa kalian tak boleh tanya ke Ibu Budi sebab itu akan menyakiti perasaan Ibu Budi.
Ibu Budi keluar ruangan menemui sang penagih hutang. Dari belakang, isak tangis Ibu Budi tak tertahan. Ia tak tahu harus melunasi hutang denga napa. Gaji bulanannya hanya cukup membeli beberapa buir nasi dan Ibu Budi mencopot cincin pernikahannya. Ia berikan ke penagih hutang itu.
Seringkali, Ibu Budi mengajar kalian supaya jangan berhutang kepada siapapun tapi Ibu Budi tak bisa menahannya. Ibu Budi tak bisa menawar dan tak bisa memilih. Adakah pilihan atau tawaran lain selain menjadi guru?
Jogja, 31 03 2024/Ilustrasi Karya Wahyu Adi Santoso


Syamsul Bahri
CONGOR RANI
Bagi Rani, congornya adalah rak pisau. Maka, setiap matahari terbit hingga tergelincir jatuh ke dalam laut. Ia lempar pisau-pisau yang tajam dari segala arah mata angin dengan mata yang melotot. Ibu Budi menjewer telinganya sampai berwarna api. Dan Rani berkata ia adalah Putri Sang Mahkota Raja.
Bagi Rani, congornya adalah silet yang baru di minmarket. Maka, ia sibuk menyayat-nyayat hati temannya sebab ia suka Kankuro yang senantiasa setia dengan bonekanya. Percikan darah segar Rani buat. Ia jilat lalu tertawa terbahak-bahak.
Ibu Budi harus punya kesabaran seluas lautan, setinggi angkasa dan sedalam samudera. Rani selalu menyebutkan Israel, Rusia dan Uni Soviet. Pisau dan siletnya ia lempar membabi buta. Setelah itu ia lantunkan nyanyian selawat untuk para Nabi-Nya.
Ibu Budi selalu berdoa untuk mengubah congornya menjadi Surga Firdaus dan congornya keluar air susu dan madu. Ketika Ibu Budi hendak meminumnya. Bidadari pun membukakan pintunya.
Jogja, 31 03 2024/Ilustrasi Karya Wahyu Adi Santoso


Syamsul Bahri
PELAJARAN CINTA
Hari ini pelajaran cinta, anak-anakku. Kalian dilarang menghafal bagian-bagian dari cinta. Karena jika kalian menghafalnya kalian tak boleh sekalipun merasakan cinta. Seorang murid bertanya, lalu jika kita tidak merasakannya, apa yang kita rasakan selain cinta, Bu guru? Baik, Ibu Budi akan menjelaskannya perlahan. Pelajaran cinta bukan hanya tentang menghitung, bukan hanya praktik tapi bagaimana kita belajar darinya.
Dalam artian, bagaimana kalian berbagi makanan kepada temanmu. Meskipun temanmu pelitnya seperti Qorun. Pelajaran cinta juga bisa dipraktikan ketika kalian melihat teman kalian tak punya uang dan kasih sayang. Kalian bisa menyisihkan sebagaian uang saku untuk bisa jajan bareng di kantin bersama. Itu namanya cinta kasih.
Pelajaran cinta juga bukan hanya memberi, anak-anakku tapi juga kalian harus menerima apa yang telah diberi temanmu. Tidak seperti saat ini. Banyak orang yang diberi tapi seringkali ditolaknya karena tidak enak makanannya atau mainannya jelek. Itu namanya bersyukur.
Terima kasih, Rani kau telah melakukan pelajaran cinta hari ini dan jangan lupa pesan-pesan Ibu Budi kepadamu. Baik, Ibu Budi terima kasih juga telah membiming Rani untuk tidak menyakiti teman-teman baik Rani.
Bu Budi, Rani boleh bertanya? Iya, Rani. Silakan, apa pertanyaanmu. Kapan bel pulang berbunyi, Buk. Rani sudah tak sabar ingin membelikan ayah sebuah kue cokelat yang manis sekali seperti senyum ibu.
Ibu Budi tersenyum dan mengucap salam kepada murid-murid.
Jogja, 31 03 2024/Ilustrasi Karya Wahyu Adi Santoso


Syamsul Bahri
SEBUAH PESAN
Ketika itu seorang perempuan
Menujah bulan purnama
dengan langgam
lirih terbawa angin malam
yang sampai padaku
Sebuah pesan dari langit yang kusam
Aku tak ingin mendengarnya
Aku tak ingin lagi mendengarnya
Sebab lidah itu milik seekor
Ular yang membisiki Hawa
Buah itu akan selalu ada
di dada
di hati dan jemala
Mrisi, 2024/Ilustrasi Karya Wahyu Adi Santoso


Syamsul Bahri
MENUNGGU
Menunggu bunyi yang lesap
dibawa angin yang terlelap
malam itu tak terjamah tubuh mawar
namun, ia meninggalkan duri
yang menancap di sekujur tubuhku
Ia tetap menunggu di perapian
Menunggu datangnya aroma kesturi
dengan bibir merah darah
dan bola mata rembulan pecah
Kau sadari itu wahai, Kasih!
Singgah di rumah duka
Warna biru yang seolah jadi
selimutmu di siang dan malam hari
Siapa yang menanggung merah delima ini?
Siapa yang menanggung hijau zamrud ini?
Siapa dan siapa?
Mrisi, 2024/Ilustrasi Karya Wahyu Adi Santoso


TENTANG PENULIS: Syamsul Bahri, lahir di Subang dan sekarang tinggal di Yogyakarta. Sajak dan cerpennya tersiar di berbagai platform media daring dan luring. Bisa disapa melewati IG: @dandelion_1922 WA: 082138096686

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar/foto/ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 200.000,- dari Puisi Esai Network. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya.


