Puisi Minggu: 8 Puisi Denni Meilizon Tentang Rahasia Rumah Tangga

1.DIALOG RAHASIA
Puisi Denni Meilizon

malam telah buta dan pagi tak mewarnai merahnya bunga mawar ketika beberapa kata kaupetik dari dialog rahasia Cassius kepada Brutus lalu kaubisikkan kepadaku dengan serius

tetapi, aku tak lupa menarik pelajaran dari Caesar bagaimana kata tidak semakna seperti diucapkan, siapa yang telah menggunting dalam lipatan, menaruh bara di antara dua roti tawar

maka dengarlah baik-baik sebab tak akan aku mengulang perkataan ini:
jangan lupa mencabut belati yang kautikamkan dengan gugup pada punggungku, jangan lupa menampung darah yang meruah, yang memberi luka dan nyeri abadi, mewarnai hitam atau putih, menuliskan sejarah tentang aku dan kau yang dikalahkan malam yang buta atau pagi hari tak berwarna.

sebab tak ada perkawanan yang abadi dalam hidup yang saling mendesak penuh kepentingan diri ini.

*) Roemah Boekoe, September 2023

Gambar internet/kolase detik.com-depositphotos

2.SIAPA YANG DITEPUKTANGANI ITU
Puisi Denni Meilizon

Kapan kau hentikan aku menanak airmata ini
Aku menanti di tiap garis waktu
Drama yang terus menerus kita mainkan
Dialog buta yang saling kita lemparkan
Lalu di tiap pertukaran babak aku tetap harus menguras air mata
Menanaknya dengan luka berlebih
Dan kau masuk ke bilik ganti tinggalkan aku di atas panggung
Yang tak mengenal layar ditutup dan
Pergantian jeda iklan promosi jualan obat minyak gosok dan krim pemutih wajah

Kapan kau hentikan aku menanak airmata ini
Aku tak sempat berganti kostum, bedak, parfum dan peran
Karakterku telah tetap dalam skenario
Drama yang kita mainkan sepanjang pertunjukan
Siapakah yang ditepuk tangani penonton itu, sayang?

Babak ke babak berganti
Adegan demi adegan kita jalani
Untungnya dirimu aku telah hapal dialog kita yang entah berguna atau tidak
Sungguh aku tidak akan lupa mengembalikan kata kepada hakikatnya
Bagaimana ucapan terimakasih harus kulafalkan dengan seksama
Penuh cinta walau
Perih luka telah berdarah
Bernanah begitu pilu.

Kapan kau hentikan airmataku yang ditanak dengan api yang berkobar ini?

*) Ujunggading, 2 Desember 2023

Gambar internet/kolase dokpri-ngopibareng.id

3.SEORANG IBU
Puisi Denni Meilizon

Seorang ibu melihat bulan
Aroma bacin dan sangit menguar di sekitar
Titik matanya tertampar
Melihat dirinya sendiri seperti terkapar
Di permukaan bulan

Aroma bacin dan sangit semakin mengeras
Apakah hidup tinggal memelas
Dan memeluk tenaga yang kian terkuras
Redam legam badannya
Dipaksa menelan kepahitan yang tak berujung
Tidak bisakah jika ibu jadi Ibu saja?
Yang harum baunya, bak putri sejati, duduk dipuja anak-anaknya?

Seorang ibu melihat bulan
Ia tandai dengan panah yang melesat dari mata
Bulan redup dan mati cahaya
Diri ibu yang terkapar di permukaan bulan meleleh dan menjadi hujan
Hujan deras, hitam dan berbatu
Menutupi malam yang tak menemukan pagi.

*) Padang, 5 Desember 2023

Gambar internet/kolase dok.pri-internet

4.DARI LEMBAH SINTAKSIS
Puisi Denni Meilizon

Bahasa kita kesunyian
Yang mendera kepala
Bertalu-talu

Dipungutnya satu per satu
Kata-kata yang liar
Dari lembah sintaksis
Menjadi mutu manikam berpendar
Membentuk bangunan asal
Mengakarkan makna untuk dipermanai

Bahasa senantiasa adalah sunyi
Dan kita menguatkannya menjadi bunyi

Sunyi dan bunyi adalah rentetan mitraliur dari terowongan waktu
Yang meledak di ujung semesta kosmik

Ia bergemuruh menggetarkan pohon pengetahuan
Dan kita memetik buah-buahnya dengan bahagia
Kita gigit dagingnya dengan meresapkan aneka indra
Seraya dengan takjub
Memilih diksi yang perlu
Bagaimana kelak ia bisa menandai kita sebagai Manusia
Memberikannya simbol dan penanda
Dengan qalam dan menaburinya tinta dari sumur – sumur peradaban

Bahasa kita
Kesunyian di garis waktu
Dan sejarah memberi ruang untuk membahanakannya.[]

*) Simpang Empat, 14 Desember 2023

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

5 Komentar

  1. Jadi nambah wawasan baru. Banyak hal yang bisa dipelajari lebih lanjut, terutama mengenai puisi esai.

    1. Ini bukan puisi esai. Ini puisi saja. Komunitas puisi esai yang support. Kalu mu baca puisi esai, klik saja logonya, nantitersambung ke link puisi esai.

  2. Saya merasa sangat jauh untuk bisa menyentuh puisi. Perumpamaannya seperti langit dan cacing tanah. Namun hal itu perlahan bisa saya atasi dengan mengikuti Kelas Menulis Rumah Dunia dan mendalami materi Puisi yang diampu oleh Toto St. Radik. Saya meyakini bahwa beliau adalah seorang maestro. Kenapa? Karena beliau mampu membuat hal yang rumit menjadi mudah dan bahkan bisa mencintainya.

  3. Kita melebur dengan kata
    Setiap baitnya adalah cerita
    Cinta, derita juga rahasia
    Kau hidup dalam bait-bait kisah
    Pesonamu warnai hidupku.

  4. Keren puisinya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==