5.KULDESAK
Puisi Denni Meilizon
Kita pejalan di malam gulita
Terbiasa melapangkan dada menjaga jejak
Kita pejalan yang selalu waspada
Mengindera langkah setiap tindak
Adakala tercekat tiba-tiba
Dan dada gemuruh menderu
Ada saat tiba rasa tersekat
Dan badan gugup terkalang ragu
Kita terus berjalan
Dalam gelap berkeadaan
Mencekam ‘nyari cahaya
Adakah di ujung jalan? atau
Ia ada dekat saja: dalam diri
Diri yang berpeluk gelap
Gulita yang panjang belum menggapai fajar
Ada yang bertanya dari balik dinding angin
Tak jemu engkau berharap malam menyingsing pagi?
Kita pejalan di malam gulita
Kita menikmati sunyi meski disiksa tuntutan untuk membangun mimpi.
*) Simpang Empat, 19 Maret 2023

6.AKU TUMBUH DI PANGKUANMU, TAPI TAK MAMPU MENCINTAIMU
Puisi Denni Meilizon
Ke pangkuanmu aku mengunduh teduh,
Dan rumpunmu melirihkan dongeng rahasia,
Yang seluruh kisahnya hanya diceritakan kepadaku seorang (barangkali)
Aku bukan pecinta yang baik,
Lagipula hanya pendiam yang bahagia,
Aku ingin tumbuh di pangkuanmu,
Dan berharap sabar akarmu membelit kakiku dengan keeratan yang abadi
Beri aku durimu yang menusuk pangkal jantungku,
Biar meluah darahku di sekujur tubuhmu,
Aku bermimpi hujan lalu entah bagaimana pangkuanmu menjelma lautan,
Dan kau berkata, “apabila telah tiba matahari pagi, selagi kau masih berpagut pada aku, bagaimana gerangan nanti perawan pencemburu datang merebutmu sedangkan kau hanya seonggok keraguan yang berlumur darah kemanjaan tiba-tiba dalam belitan akarku, dalam teduh rumpunku, tenggelam oleh lautan di pangkuanku?”
Baiklah. Aku bukan pecinta (barangkali)
Tetapi aku ingin tumbuh dalam dirimu,
Tidur manja dan terbangun bahagia,
Kenyang dirajam durimu, kenyang dihempas ombakmu.
*) Simpang Empat, 14 Maret 2023

7.PUISI DARI RINDU YANG DIJAHIT AIRMATA
Puisi Denni Meilizon
Dulu, telah kutulis puisi untukmu
dan apakah kau sudah membacanya?
Puisi itu kutulis di bawah bulan malam, saat dedaun, rerumput kering, ikan di kolam dan kodok, memanggil angin tiba
bersama aroma taman, aneka bunga, daun pandan serta humus tanah. Desir air dari telaga belakang rumah kediaman,
Bisik lembut embun hinggap di permukaan daun dan burung kukuk berdekut dari bubungan
Begitulah kemudian kubariskan huruf yang menetes dari pendengaran
Kubayangkan saat itu kau sedang duduk manis
Di halaman rumah kediamanmu seraya memandang bulan malam yang sama
Menjahit rindu dan kenangan dan cinta dengan benang
Yang terjulur dari dada dengan jarum jelmaan airmata
Puisi itu, sudah kau baca?
Sudahkah?
Lihatlah, akhir-akhir ini badai selalu menghapus malam dan aku kian takut kehilanganmu
Lalu tak bisa lagi
Membedakan rasa; bagaimana mencintaimu ketika dekat
Bagaimana mencintaimu ketika jauh
Rindu katamu
rindu kataku
akankah bisa dijahitkan ke dalam puisi
Perlukah dada ini kubelah untuk mengeluarkan benang yang panjang?
Perlukan airmata menjadi sungai untuk
membuat jarum yang tajam itu menjahiti rindu dengan kenangan dan kemudian terjadilah cinta menjadi kita?
Sebuah puisi, pada suatu hari
Telah dijemur di bawah matahari terik
Huruf-huruf berhamburan menjadi awan
Bunyi terbenam ke dalam udara.
*) Padang, 2016 – Simpang Empat, 2021

8.LAGU GEMBIRA
Puisi Denni Meilizon
Kepadamu lagi aku bertandang kini
Kau punya sudut lega yang kusukai sejak lama
Kau biarkan aku di situ mengerjakan apapun tanpa ragu
Sudut yang nyaman lagi bahagia
Aku tak bermaksud pergi
Dan meninggalkan dirimu yang begitu rela menjaga sudut nyamanku dalam dirimu
Aku pergi sebab keinginan besar yang bergemuruh dalam diriku untuk memberi kepadamu lega yang sama, kenyamanan yang menyenangkan dan bahagia yang meluah
Namun seperti yang kau lihat, aku tetap tidak membawa apapun
Dan seperti yang kulihat kau sejatinya tidak pernah meminta apapun
Kepadamu lagi aku bertandang kini
Kau punya sudut lega yang kusukai sejak lama
Kau biarkan aku di situ mengerjakan apapun tanpa ragu
Sudut yang nyaman lagi bahagia
Segala tiba segala gembira
Entah pula di dalam dada.
*) Simpang Empat, 12 Maret 2023.

Tentang Penyair: Denni Meilizon, lahir 06 Mei 1983 di Silaping Pasaman Barat. Buku Puisinya Hidangan Pembuka (Rumahkayu, 2021) dan sedang proses terbit Percakapan Sebelum Pagi (2024). Bergiat di Forum Pegiat Literasi Pasaman Barat, FPLS Sumatera Barat dan Forum TBM Sumatera Barat. Tinggal di Simpang Empat, Pasaman Barat.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 hingga 10 puisi. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Sertakan bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com . Ada uang pengganti pulsa Rp 150.000. Sertakan bank dan nomor rekeningnya.

NANTIKAN PUISI MINGGU EDISI #3, 21 JANUARI 2024:




Jadi nambah wawasan baru. Banyak hal yang bisa dipelajari lebih lanjut, terutama mengenai puisi esai.
Ini bukan puisi esai. Ini puisi saja. Komunitas puisi esai yang support. Kalu mu baca puisi esai, klik saja logonya, nantitersambung ke link puisi esai.
Saya merasa sangat jauh untuk bisa menyentuh puisi. Perumpamaannya seperti langit dan cacing tanah. Namun hal itu perlahan bisa saya atasi dengan mengikuti Kelas Menulis Rumah Dunia dan mendalami materi Puisi yang diampu oleh Toto St. Radik. Saya meyakini bahwa beliau adalah seorang maestro. Kenapa? Karena beliau mampu membuat hal yang rumit menjadi mudah dan bahkan bisa mencintainya.
Kita melebur dengan kata
Setiap baitnya adalah cerita
Cinta, derita juga rahasia
Kau hidup dalam bait-bait kisah
Pesonamu warnai hidupku.
Keren puisinya