Puisi Minggu: Kembali Karya Heni Hendrayani

Apa yang terlintas di benak kita, saat kita bertemu dengan kata “kembali”? Kita boleh menemukan kata “kembali” di manapun tetapi sejatinya insan, selalu ingin bertemu kembali dengan sesuatu yang indah, sesuatu yang mencerahkan, membahagiakan dan anugerah berkah di kedalaman jiwa.

Kelima puisi yang ditulis ini memiliki satu nafas yang sama yaitu tentang “kembali”: Kembali pada sesuatu yang teramat dekat,  Tuhan ! Kembali bertandang menemui-Nya meski mungkin ruku kita tidak sempurna, sujud kita tidak juga sempurna. Kembali ke kampung karuhun, menghirup harum tanah kelahiran yang berpuluh tahun ditinggalkan dan kembali kepada putih cinta, sebuah tempat yang sama untuk kembali, kembali kepada ikhlas cinta.

Heni Hendrayani

oOo

Heni Hendrayani
SONET DEBU

Sang penempuh jalan kesunyian
menapaki keheningan sebutir debu
pada malam-malam paling layu
jangan biarkan angin meniupnya ke luar jendela waktu

biar terbaring tentram di teguh jiwanya yang biru
membawanya mengarungi lautan ruku
menempuh kedalaman samudra sujud
terbata mengeja alif ba ta

menatap pendar cahaya Rabb yang Maha
bersama Sholawat paling sedu
tersayat ngilu kalbu ditikam indahnya nyeri rindu

bersikeras menanggalkan nafsu
dari jasadiah yang mengungkung
adakah waktu demikian jeruji,
menunggu tiba paling suci

2025

oOo

Heni Hendrayani
RUANG-MU

Menengok ruang demi ruang di alam pikirku
sebentar terhenyak, begitu banyak pintu
menuju berbagai ruang yang aku ciptakan
sepanjang hidupku

Lorong demi lorong menghubungkan ruang demi ruang
tak akan tersesat, sudah aku beri nama di setiap pintunya
beberapa sudah tertutup rapat
ditimbun waktu

Hanya ada satu ruang yang selalu terbuka
tak perlu pintu untuk membuka atau menutupnya
cahaya bening semburat dari dalamnya

Berpendaran berkilauan
menyungkup jiwaku. Dan aku selalu ingin
bertandang. Lagi dan lagi ke ruang itu: ruang-Mu!

2025

oOo

Heni Hendrayani
BISIKMU PADA BUMI

Ada yang tiba
serupa kesejukkan embun
ada yang pergi
bagai guguran daun dari ranting pohon

Pagi membawa keberkahan sendiri
saat kita yakin pada Sang Maha
mengatur seluruh makhluk-Nya
tak ada yang luput dari tatapan-Nya

Sebiji jarah kebaikan
akan menjelma gunung kebaikan
laksana kemilau mutiara
yang akan terus berkilau

Usah alamatkan keluh pada manusia
innallaha ma’ana

bersujudlah!
bisikmu pada bumi
akan didengar langit
merunduklah pula
dalam rukumu!

2025
oOo

Heni Hendrayani
SETELAH TIGA PULUH FEBRUARI

Ribuan aksara telah terbaca
pada deretan buku yang tertata rapi
huruf-huruf telah dituliskan
pada lembaran kehidupan
di halaman buku yang ditandai
tentang kisah tiga puluh februari yang ditinggalkan
pada perjalanan ke kota yang jauh

Cerita petualang fana
menjelajahi semesta aksara
tertulis di buku Sang Maha Pemilik Hidup
tergores sebagai guratan nasib

Sepoi angin timur menerbangkan salam
pada awan yang berarak di cakrawala luas
menjelma jingga saat senja tiba
mengganti kemarin menjadi hari ini

Adakah yang pergi mungkin kembali
setelah ribuan jejak ditinggalkan
bersekutu mengeja waktu
dan mimpi menjelma nyata

Saat gelik kacapi suling memanggil-manggil
kelana disayat rindu
bayang siluet kota ungu
harum tanah kampung karuhun
menguar sehabis hujan di musim basah
biarlah sempurna kuguritkan kata
di indah langit kotaku

2025
oOo

Heni Hendrayani
KILAU KEMBANG ANTHURIUM

tetes air mengembun di daun-daun
sisa gerimis subuh hari
berkilau di merah kembang anthurium

serupa kilatan air mata
mengembang di pelupuk mata

saat kata-kata tak sanggup terucap
hari-hari terlewati bersama guguran daun
tak cukup jemari membilang purnama

temaram sinarnya engkau sekap di dada
seluruh waktu menjelma kenang dan hangat rindu

ketika kita punya tempat yang sama untuk kembali
bersama sayap-sayap doa yang diam-diam dipanjatkan
terbang melintas cakrawala mengetuk pintu langit

adakah yang lebih ikhlas dari putih cinta
dipersembahkan Majnun kepada Laila

2025

oOo

TENTANG PENULIS: Heni Hendrayani, kelahiran Ciamis, Jawa Barat. Menulis puisi dalam bahasa Indonesia dan Sunda, artikel, cerita anak, cerita pendek, Sonian. Karyanya tersebar dalam 100 lebih antologi bersama. Dan tiga antologi puisi tunggal. Heni aktif di Komunitas Sastra Dewi Sartika Jawa Barat dan menjadi Ketua Komunitas Sastra Perempuan Penulis Galuh.

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik gambar di bawah ini:

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==