Para utusan Tuhan telah sirna dari muka bumi. Akan tetapi, apa yang dibawa dan diajarkannya terus bersemayam di dada para pengikutnya hingga kini.
Kisah-kisah teladan para utusan Tuhan begitu berharga bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini sebagai pedoman mengarungi lautan hidup, jembatan hidup, sampai kepada kematian dan kehidupan setelahnya.
Meskipun demikian, tak sedikit rintangan yang menghadang para utusan Tuhan itu. Ujian demi ujian, baik fisik maupun psikis, terus melanda mereka seluruhnya. Kabar-kabar tak baik tentang utusan Tuhan pun berikut berita-berita dusta tentang mereka terus berguliran di sana-sini.
Para utusan Tuhan ialah teladan. Bukankah sebaiknya kita mengambil pelajaran berharga dari mereka agar hidup tertentu arah dan tujuan?
Narudin Pituin

Narudin Pituin
BUAH TERLARANG TAK PERNAH ADA
Buah terlarang tak pernah ada ketika Adam
mencari-cari bersama perempuannya. Ular
itu pun tiada sebab di pohon itu hanya
ada sehelai daun. Di situ tertulis namamu.
– Apa benar setelah mati kamu akan
dibangkitkan lagi?
Perempuan itu tak pernah jatuh cinta
kepada Adam. Adam pergi bersama perempuan lain,
mengumpulkan kayu bakar untuk menghangatkan
tubuh mereka berdua di hutan sebab itu hujan
pertama di bumi. Dan Abduh mengulang-ulang
dongeng Adam dan perempuannya ini.
(2025)
Narudin Pituin
TAK PERLU ENGKAU MEMBUAT KAPAL
– Tak perlu engkau membuat kapal. Tak ada
laut. Tak ada air besar.
Seluruh orang berkumpul, memperhatikan
Punggung anak Nuh yang pergi berburu.
– Bukankah keadaan demikian pelik? Mengapa
anak Nuh pergi?
Seorang lelaki gemuk tiba, membawa kapal di
tepi laut, mengajak seluruh orang tamasya:
melihat dunia yang penuh tipu daya.
Katakan, apa arti dari tamasya ini? Bukankah
kita sekalian seharusnya tenggelam?
Tak ada berburu juga tiada liburan.
(2025)
Narudin Pituin
TUBUHKU TERBAKAR
Tubuhku terbakar, tolong. Aku tak tahan
jilatan api ini. Demikianlah seru Ibrahim.
– Api itu tak membakarmu. Engkau tak
perlu meminta pertolongan.
Tubuhku sudah meleleh, dagingku luluh,
tulangku hangus. Bukankah seharusnya
patung-patung itu telah kurobohkan? Tolong.
-Pertolongan tak perlu untukmu. Tubuhmu
tak terbakar dan hentikan segala kepura-puraan
itu, wahai Ibrahim.
Api kini kian membesar, memenuhi bumi dan langit.
Bahkan si penulis puisi ini pun bisa terbakar.
(2025)
Narudin Pituin
DIA SELALU MEMBAWA TONGKAT
Dia selalu membawa tongkat yang ketika dipukulkan
ke atas tanah merah, tumbuhlah sebuah pohon, pohon
dari tongkat itu yang dililit ular-ular kecil sebesar kacang
panjang.
– Saksikan saja, katamu singkat.
Ia pergi ke gunung. Di sana tak berjumpa siapa pun.
Hanya segaris awan di langit. Dan sekawanan
domba yang tengah merumput. Dan kekosongan agung.
– Saksikan, kedua lutut Musa gemetar.
Butakah mataku ini?
(2025)

Narudin Pituin
DARAHKU INI DARAH MANUSIA
Darahku ini darah manusia. Sakit rasanya
dipaku di papan kayu, kedua telapak
tangan dan kakiku.
Aku manusia. Lapar dan dahaga kala kalian
mengangkat tubuhku ke papan kayu.
– Esok aku akan bercerita dan datang kepadamu
dengan sungguh-sungguh. Kaukira aku
sedang bercanda?
Seseorang menutup tubuh Yesus yang auratnya
terlihat. Seseorang itu tak jelas apa ia seorang lelaki
atau ia seorang perempuan yang terpikat.
– Aku ialah aku yang lain. Aku darah.
aku daging. Aku ialah segala
yang tak dibutuhkan Tuhan.
(2025)
Narudin Pituin
ORANG RUPAWAN DAN GAGAH ITU ORANG GILA!
Orang rupawan dan gagah itu orang gila!
Muhammad dengan pedang di tangan dan kebajikan
yang dikibas-kibaskan di tangan kirinya.
Orang gagah dan pemberani itu orang pendusta!
Cerita demi cerita orang-orang terdahulu
telah kita terima. Dan, ah, apa guna semua yang sama?
– Lihat, telunjuknya menunjuk dua jalan.
Jalan ke kiri dan jalan ke kanan.
Orang pemberani dan penakut itu dilempari
kotoran dan tertancap panah.
– Jangan biarkan darahnya jatuh ke bumi.
Kebinasaan besar tak mungkin kauhindari.
Langit biru cerah. Siut angin pelan saja. Tetapi, mengapa
matahari harus terbit tidak di timur?
(2025)


NARUDIN PITUIN ialah sastrawan, penerjemah, dan kritikus sastra. Karya sastra, terjemahan, esai dan kritik sastranya dimuat di Kompas, Tempo, Media Indonesia, Majalah Sastra Horison, Majalah Basis, Pikiran Rakyat, dan banyak lagi di dalam dan luar negeri. Buku puisinya berjudul Di Atas Tirai-tirai Berlompatan (2017) menjadi pemenang Anugerah Puisi CSH 2018 dan dua buku puisi terjemahan bahasa Inggrisnya mendapat penghargaan tingkat internasional. Buku-buku terbarunya berjudul Sintesemiotik: Teori dan Praktik (2023), Sastra Indonesia dalam Sastra Dunia: Kumpulan Esai dan Kritik Sastra (2023), Sang Nabi Al-Muqaffi (novel, 2022), dan Kuntilanak Monru (kumpulan cerpen, 2024).

PUISI MINGGU terbit setiap hari Minggu. Silakan mengirimkan 5 puisi tematik. Sertakan foto diri dan gambar atau foto ilustrasi untuk mempercantik puisi-puisinya. Tulis bio narasi dan pengantar singkat. Kirimkan ke email : gongtravelling@gmail.com. Ada uang pengganti pulsa Rp 300.000,- dari Denny JA Foundation. Sertakan nomor WA dan nomor rekening banknya. Jika ingin melihat puisi-puisinya yang sudah tayang, klik banner di bawah ini:


