Oleh: Rudi Rustiadi
Kantor Bahasa Provinsi Banten mengadakan kegiatan Pembinaan Komunitas Penggerak Literasi dalam Rangka Pemberdayaan Komunitas Literasi di Kota Cilegon. Bertempat di Graha Sucofindo, 70 pegiat literasi di Kota Cilegon berkumpul bersama untuk meningkatkan kapasitas manajerial komunitas.


Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, pada Jumat, 18 Juli 2025 hingga Minggu, 21 Juli 2025. Pada hari pertama para peserta mendapatkan materi penyusunan profil komunitas dari pasangan pasutri literasi yang juga pendiri komunitas literasi Rumah Dunia, Gol A Gong dan Tias Tatanka.


Sihabudin, Kepala Administrasi Kantor Bahasa Provinsi Banten menjelaskan dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan agar peserta memiliki kemampuan manajerial dasar komunitas literasi, seperti menulis profil, program inovatif, Rancangan Anggaran Belanja (RAB), laporan keuangan, serta proposal kegiatan.


Tias Tatanka membuka kegiatan pembinaan ini dengan bercerita sejarah Rumah Dunia, komunitas literasi yang didirikannya bersama Gol A Gong. Ia memaparkan tentang konsistensi menjalankan program literasi di Rumah Dunia.

Sementara Gol A Gong menjelaskan tentang tujuh pilar komunitas. Pertama. Komunitas literasi idealnya memiliki ruang aktivitas yang representatif, yang tidak mengganggu privasi pemiliknya. Pisahkan ruang pribadi dan komunitas. Walaupun tidak dilarang juga di ruang tamu atau teras rumah pemiliknya, tapi pengurusnya harus punya keinginan untuk memisahkan.

Selain itu adalah nama komunitas yang memiliki filosofi, visi misi, dan legatitas jika komunitas ingin mendapatkan dana bantuan dari Pemerintah. Komunitas juga harus memiliki struktur organisasi yang jelas mulai dari ketua, sekretaris, bendahara dan seterusnya.
Kedua adalah program. Komunitas perlu memiliki program kerja yang terukur dan konsisten, seperti pelatihan, diskusi, atau kegiatan sosial. Program harus sesuai dengan visi-misi komunitas, memberi dampak langsung pada masayarakat juga anggota atau relawan. Jadi ada program yang keluar untuk warga belajar ada yang ke dalam untuk pengelola dan relawan.

Ketiga adalah SDM. Mengelola komunitas literasi jangan sendirian. Usahakan ada relawan. Bisa masyarakat setempat atau mahasiswa. Ada regenerasi agar semangat dan visi komunitas terus hidup. Kaderisasi juga membentuk jiwa kepemimpinan dan memperkuat daya tahan komunitas.
Keempat adalah dana. Usahakan komunitas literasi tidak mengetuk pintu-pintu dinas, tapi buatlah program. Nanti dengan sendirinya mengikuti. Money follow programe. Iyuran antar anggota juga diperbolehkan. Lebih baik lagi jika komunitas literasi punya sumber ekonomi, seperti jualan buku, kerajinan tangan, produksi film penjualan produk kreatif, donasi, iuran anggota, atau kerja sama dengan pihak lain (CSR).

Kelima koleksi buku. Saat ingin membentuk komunitas literasi jangan langsung meminta donasi. Tapi harus dimulai dari penglolanya. Punya buku berapa? Setiap bulan punya kemampuan membeli berapa buku? Jangan sampai beban itu dilimpahkan pada orang lain. Selanjutnya koleksi buku di komunitas literasi harus variatif. Pengetahuan umum, agama dan fiksi (sastra). Lebih baik lagi disesuaikan dengan karakteristik masyarakatnya.
Keenam adalah berjejaring. Komunitas perlu membangun dan menjaga jejaring dengan komunitas lain, dinas pemerintah, media, dan lembaga lainnya. Ada Forum TBM, GPMB, IPI, Atpusi, 1001 buku dan komunitas lainnya. Kolaborasi akan memperluas dampak dan membuka peluang pengembangan komunitas.


Ketujuh adalah publikasi dan dokumentasi. Setiap kegiatan harus didokumentasikan, baik dalam bentuk tulisan, foto, maupun video. Dokumentasi berfungsi sebagai rekam jejak dan bahan evaluasi sekaligus media promosi komunitas. (*)


