When Marnie Was There
Kisah indah di buku ini menceritakan persahabatan antara Anna dan Marnie. Pertemuan mereka yang tak disengaja seolah mewujudkan semua khayalan Anna tentang rumah rawa. Meskipun kenyataannya Bu dan Pak Pegg sulit untuk mengingat tentang rumah di pinggir sungai itu. Suami istri yang baik hati itu tinggal di sebuah pondok batu yang indah.
Setidaknya, alam serta keindahan Little Overton telah berhasil membuat perasaan disingkirkan oleh Bu Preston menghilang dari pikiran Anna. Anna seperti diriku yang selalu merasa disisihkan serta tak diinginkan. Padahal Bu Preston, ibu angkatnya, berniat baik memintanya ke Litte Overton, demi kesehatan Anna sendiri. Sayangnya, gara-gara cek yang tak sengaja ditemukannya, Anna jadi berpikiran buruk padanya. Anna berkesimpulan, bibinya itu mau merawatnya karena uang.
Rumah Rawa dan Marnie
Gagal berteman dengan Sandra Di ujung jalan tak membuat Anna berputus asa membahagiakan diri. Anna bermain di bantaran sungai. Menumpang perahu Wuntermenny untuk mencari bulu babi. Mengumpulkan lavender di pantai. Dan memerhatikan rumah rawa lewat cahaya senja. Anna yakin selalu ada pesta malam hari yang digelar di rumah pantai tersebut. Bahkan ia yakin ada anak-anak yang tinggal di dalamnya. Awalnya, Anna mengira kelima anak berkaus biru yang ia lihat di tepi pantai itu tinggal di rumah rawa. Tapi ternyata ia keliru.
Anna sebenarnya seperti diriku yang mendambakan teman sejati. Hanya saja alam masih menyeleksi mereka yang tepat untuk dipadankan. Seperti halnya pertemuan Anna dan Marnie. Anna melihat Marnie pertama kali di jendela atas rumah rawa. Anna senang sekali karena mimpinya jadi kenyataan. Ternyata rumah tepi pantai itu memang berpenghuni.
Anna dan Marnie bersahabat sejak kejadian perahu di malam hari. Anna sempat mengira Marnie hantu. Marnie memakai gaun tidur berwarna putih yang panjangnya hingga mata kaki. Di bawah sinar bulan mirip sekali hantu. Marnie juga sering mengira Anna tak nyata. Bahkan ada beberapa kejadian ketika mereka berdua saling kehilangan, tak bisa saling menemukan. Lalu “plop!” tiba-tiba muncul lagi, dan mereka bisa saling melihat.
Puncak dari pertemanan mereka ketika Anna menyamar jadi pengemis gipsi di pesta Marnie. Anna menjual lavender di pesta itu. Mimpi yang jadi kenyataan! Anna sempat enggan pulang karena tak mau terbangun dari pesta yang indah tersebut.
Rahasia Marnie
Persahabatan Anna dan Marnie sempat terganggu oleh keberadaan Edward, sepupu Marnie. Anna sangat merindukan Marnie. Tapi Marnie jadi sulit ditemui. Beberapa kali mereka tanpa sengaja bertemu. Di bukit pasir tiba-tiba Marnie muncul. Anna sempat menangis karena sangat merindukan Marnie. Ia Marah ketika menemukan rumah pasir yang dibuat oleh Edward dan Marnie.
Anna tak suka ketika Marnie bercerita Edward mengatainya penakut. Marnie memang takut pada bangunan kincir angin. Anna yakin ada rahasia yang dipendam sendiri oleh Marnie tentang bangunan besar itu. Puncaknya adalah ketika Anna dan Marnie terjebak di kincir angin sewaktu badai turun. Dan parahnya, Marnie meninggalkan dirinya terjebak sendirian di menara kincir angin! Sejak saat itu Anna tak memaafkan Marnie. Ia tak menganggapnya teman lagi.
Anna sakit lama sejak kejadian di kincir angin itu. Kemudian semua berubah ketika anak-anak Lindsay tinggal di rumah rawa. Anna hampir tak mengingat Marnie sejak akrab dengan mereka. Bu Pegg dan Bu Preston senang Anna berubah banyak.
Seperti kataku di awal, Anna sebenarnya sedang menantikan teman sejati. Dan kini ia telah mendapatkannya. Tak hanya sebatas teman, tapi utuh satu keluarga! Anak-anak Lindsay membantu Anna mengungkap rahasia Marnie. Di luar dugaan, ada hubungan yang begitu erat antara diri Anna dengan rumah rawa.
Bagiku buku “When Marnie Was There” ini seolah ikut menceritakan beberapa bagian yang ada dalam diriku. Keindahan Little Overton sanggup membiusku tenggelam dalam mimpi yang sama dengan Anna. Sebuah cerita persahabatan yang indah. Buku yang mengajarkan arti pertemanan, mencintai dengan tulus, serta memaafkan masa lalu.
***
Identitas Buku
Judul : When Marnie Was There
Penulis : Joan G Robinson
Penerjemah : Antie Nugrahani
Penerbit : penerbitbaca.com
Halaman : 288
Bio Narasi
Nama : Yola Widya
Nama Pena : Widy Day
Pekerjaan : Content Creator
TTL: Bandung, 11 Agustus 1977

RAK BUKU mulai Mei 2024 tayang satu minggu sekali, setiap hari Rabu. Rak Buku adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 700 kata. Honor Rp100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku.


