Oleh: Susi Lusiana – Alumni Kelas Menulis Rumah Dunia Angkatan 40
Buku Seorang Pria yang Memulai Duka dengan Mencuci Piring adalah koleksi pertama di rak buku nonfiksi di rumahku. Aku pertama kali menemukan buku ini ketika sedang berselancar di salah satu aplikasi media sosial yang sekarang dikenal dengan sebutan “X.” Di aplikasi itu, banyak orang merekomendasikan buku ini untuk dibaca.
Pada akhir tahun 2024, aku berkesempatan membelinya—bukan dengan uangku sendiri, melainkan sebagai hadiah dari mamahku. Beliau mendapat arisan, dan aku meminta buku ini sebagai hadiahnya.
Pada awal buku ini, penulis menciptakan suasana hangat bagi para pembaca dengan menyapa:
“Hello, selamat datang di Klub Berduka.”

Bagian ini memberi sensasi tersendiri ketika membacanya. Aku merasa seperti berada dalam suatu ruangan gelap, hanya ada aku dan penulis di dalamnya. Sapaan itu membuatku berpikir bahwa bukan hanya aku yang sedang mengalami perasaan duka—ada banyak orang lain yang merasakan hal yang sama.
Duka bagi setiap orang tidak selalu berkaitan dengan kematian. Ia bisa muncul karena banyak hal, seperti putus hubungan dengan pacar, hancurnya pertemanan, dan sebagainya. Aku adalah salah satu dari mereka yang sedang berduka.
Tahun ini, aku baru saja mengakhiri hubungan dengan seseorang yang begitu membekas dalam hidupku. Karena itu, aku merasa menjadi bagian dari Klub Berduka. Untuk masuk ke klub ini, kita harus dalam kondisi berduka—itulah syarat utama agar bisa menjadi anggotanya.

Pada bab-bab selanjutnya, penulis menyajikan kisah perjuangan mereka dalam merawat anak semata wayang mereka yang begitu istimewa. Nama anak itu adalah Hiro—nama yang, bagiku, cukup mudah diingat dan berkesan. Hiro lahir dengan kelainan pada sistem pernapasannya, sehingga ia harus menggunakan selang di hidungnya untuk bernapas.
Selama merawat Hiro, kedua orang tuanya melakukan berbagai macam upaya demi kesehatannya. Penulis menggambarkan betapa indahnya momen-momen saat mereka merawat Hiro, meskipun anak itu sering keluar-masuk rumah sakit. Namun, penulis dan istrinya pantang menyerah.
Dalam bab-bab yang menggambarkan perjuangan mereka, penulis juga tidak menutupi kenyataan bahwa merawat Hiro sangat melelahkan—baik secara fisik maupun finansial. Biaya pengobatan Hiro tidaklah sedikit, dan jumlahnya sangat besar jika dihitung.

Tetapi, orang tua mana yang tega melihat anaknya menderita? Mereka rela mengorbankan segalanya demi sang buah hati, dan jika memungkinkan, mereka pasti lebih memilih bertukar posisi dengan Hiro.
Bagiku, bab yang paling berkesan adalah bab 10. Di bagian ini, air mataku mengalir deras. Penulis menceritakan detik-detik terakhir bersama Hiro di ruang ICU. Sebagai seorang tenaga medis, tentu penulis mengetahui secara detail bagaimana detak jantung Hiro terlihat di layar monitor ruangan yang dingin itu. Ia menceritakan bagaimana detak nadi Hiro terus melemah—dari 120 kali per menit hingga hanya tersisa 30 kali per menit dalam kurun waktu 30 menit.
Selama 30 menit itu, Papa (penulis) dan Mama Hiro berbicara seolah-olah Hiro masih bisa mendengar mereka. Dalam waktu yang begitu singkat, mereka mengenang betapa bersyukurnya mereka memiliki Hiro di dunia ini.

Bagian ini seperti pisau yang menghujam kesadaranku. Aku sering menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna. Namun, dari kisah Hiro, aku sadar bahwa waktu akan terasa sangat berharga ketika kita tahu bahwa orang yang kita ajak bicara akan segera pergi dan tak akan pernah kembali.
Selama membaca buku ini, aku mendapat banyak pelajaran berharga. Salah satunya adalah betapa pentingnya menghabiskan waktu dengan orang-orang terkasih selagi mereka masih ada di dunia ini bersama kita. Sebab, jika ajal telah tiba, tak ada lagi ruang untuk negosiasi.
Setelah menamatkan buku ini, aku mulai lebih fokus ketika bersama orang-orang terdekatku. Aku berusaha menghindari distraksi seperti ponsel, tugas, atau hal lain yang menghambat kebersamaan. Dengan begitu, aku berharap tidak akan menyesal ketika mereka sudah tiada nanti.
Identitas Buku
- Judul: Seorang Pria yang Memulai Duka dengan Mencuci Piring
- Pengarang: dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ
- Tanggal Terbit: Desember 2023
- Halaman: 191
- Genre: Nonfiksi, Self-Improvement
Tentang Penulis
Halo! Aku Susi Lusiana—panggil aku Susi atau Zy. Akhir-akhir ini, aku mulai menggeluti dunia tulis-menulis dan buku. Keinginan ini sudah ada sejak lama, tetapi baru bisa terealisasi sekarang. Semoga apa pun yang sedang aku jalani bisa membuahkan hasil di masa depan.
Untuk mengetahui lebih banyak tentang aku, kalian bisa mengikuti akun Instagram pribadiku di @sslsna_ atau @stdywzy, tempat aku berbagi tentang kegiatan membacaku.
Glad to see you, and see you!




Ulasannya bagus sekali. Membacanya, saya tidak hanya tergerak untuk membeli dan membaca bukunya kelak, tapi juga menjadi tertampar sendiri, karena selama ini betapa “distraksi seperti ponsel atau hal lain yang menghambat kebersamaan” menyebabkan tidak fokus ketika bersama orang-orang terdekat. Terimakasih ya, Zy, sudah menulis ini. Salam Kenal…