Ada hipotesis dari Siti Zuhro yang unik (lihat halaman 4 buku tersebut). Ia mengatakan bahwa keberadaan anggota parlemen perempuan memiliki potensi yang kuat dalam menurunkan tingkat korupsi dibandingkan dengan laki-laki.
Perempuan memiliki rasa malu yang lebih kuat dan tinggi, kehadirannya di dunia politik dan birokrasi menjadi pengontrol dan penyeimbang bagi laki-laki, fakta di lapangan menunjukkan bahwa sejauh ini kasus-kasus korupsi hampir tak melibatkan perempuan.
Buku “Ratu Atut Chosiyah dan Signifikansi Pemimpin Perempuan”, sangat cocok untuk dibaca oleh kalangan akademisi, pelajar atau masyakarat umum yang ingin melihat Banten secara lebih luas.
Buku tersebut mengupas tuntas dinamika politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan lain sebagainya yang ada di Provinsi Banten. Terutama perjalanan atau karir dari seorang Ratu Atut Chosiyah, sebagai tokoh wanita yang dapat menduduki kursi gubernur di Banten.

Isi dalam buku tersebut menekankan pembangunan di Provinsi Banten bisa berjalan dengan baik apabila pemerintah mempunyai komitmen kuat kepada asas dan kejujuran dalam menjalankan tugasnya. Hal tersebut yang belum muncul di Provinsi Banten bahkan di negeri kita tercinta, para penguasa belum komitmen untuk pembangunan ekonomi dan sosial yang mendorong kesejahteraan rakyat.
Tidak hanya sebatas program atau kegiatan, seyogyanya pemerintah dan masyarakat bersinergi untuk membangun Banten. Kepercayaan antara kedua belah pihak harus tumbuh dengan baik, hingga memiliki kepercayaan yang utuh agar tidak ada kecurigaan atau kecurangan dalam menjalankan amanah yang telah disepakati dalam proses birokrasi dan pelaksanaan kerja.
Namun, buku ini tidak membicarakan secara gamblang sejarah Ratu Atut Chosiyah dari masa pencalonan, terpilih menjadi gubernur hingga akhir jabatannya. Tidak hanya itu, buku tersebut seperti kumpulan esai yang ditulis oleh beberapa orang dengan mengusahakan agar tulisan tersebut tidak lupa membawa nama Ratu Atut Chosiyah sebagai gubernur Banten.
Membawa dalam arti gubernur tersebut berperan dalam program atau proses pembangunan Banten yang lebih baik—terkesan seperti dipaksakan.

Buku unik yang tidak ada di toko buku, buku yang tidak boleh diperjualbelikan, dan buku ini tersimpan rapih di Perpustakaan Daerah Kota Serang. Siapapun yang ingin tau Banten pada masa Ratu Atut Chosiyah, maka buku ini bisa menjadi salah satu rujukan untuk mengenang sosoknya!
Koordinator Penulis: Kurdi Matin
Judul Buku: Ratu Atut Chosiyah dan Signifikansi Pemimpin Perempuan
Penerbit: Pustaka Alumni
Jumlah Halaman: 254
Cetakan Pertama: 2011


RAK BUKU mulai Mei 2024 tayang seminggu sekali, setiap hari Rabu. Rak Buku adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 700 kata. Honor Rp. 100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku.



