Banyak cerita cinta yang sudah ditulis. Seolah takpernah habis, kisah cinta atau sesuatu tentang cinta berserakkan di tengah-tengah kehidupan kita, pada masa lampau atau yang sudah tertulis dalam buku-buku berabad-abad lalu. Soal Cinta memang tak pernah habis untuk kita bahas.Tak pernah kering dan mati saat melewati musim apa pun. Cinta selalu bertahan dan seolah memilik nyawa lebih dari satu.
Kisah cinta setiap masing-masing individu sangat berbeda dengan yang lain, meski tetap saja nafas cerita cinta itu selalu menarik untuk dibaca jika ditulis dari berbagai sudut atau angle yang berbeda. Pengalaman cinta seseorang yang sangat menyakitkan dan menyedihkan bisa saja ditulis dengan penuh dramtis dan romantis. Bagi si pemilik kisah, mungkin itu adalah sebuah kutukan yang amat menyedihkan. Tapi bisa jadi bagi si pembaca—ketika kisah itu dikemas sedemikian menarik—akan menjadi kisah cinta inspiratif, minimal kita bisa mendapatkan pesan tersembunyi yang terdapat di dalamnya: bahwa cinta selalu butuh perjuangan.

Dan kita akan menemukan banyak kisah cinta pada buku kumpulan cerpen “Aroma Cinta di Commuter Line” karangan dua penulis muda Siti Sabili Jahro (Bili) dan Yori Tanaka. Tema cinta yang ditawarkan penulis memang tidak jauh-jauh dari patah hati, cinta segitiga, kesetiaan, sakit hati atau yang lainnya. Membaca kumpulan cerpen ini—tidak bermaksud memukul rata perihal ungkapan para kritik sastra, bahwa tidak menutup kemungkinan cerita-cerita sastra itu tak lepas dari pengalaman batin atau kisah nyata dari si pengarangnya—seolah kita menyaksikan cerita kisah sendiri, cerita sehari-hari yang dekat dengan kita.
Pemilihan awal menampilkan cerpen “Gemerlap Purnama di Atas Cirarab”, menurut hemat saya cukup tepat. Cerpen ini berkisah tentang cinta anak kelas 2 SMP bernama Anggi yang berpacaran dengan salah satu gurunya, Fandi. Tentu saja bisa kita tebak kisah ini menjurus pada kisah cinta terlarang. Sebab Anggi anak kaya dan Fandi dari kalangan (katakanlah) miskin. Ayah Fandi tidak merestui hubungan itu, sebab mereka tak mau terluka jika nanti mendapat penghinaan dari keluarga Anggi. Cerita yang cukup mengharu-biru ketika Anggi, gadis kecil itu tak pernah peduli soal status kaya-miskin, yang dia tahu cuma cinta dan rasa nyaman bila ada di dekat sang guru, Fandi. Hingga pada akhir kisah, Anggi mesti merelakan Fandi dengan orang lain. Fandi akan menikah dengan gadis lain, dan itu membuat remuk hati Anggi. Membaca cerpen ini, seolah kita sedang didongengkan oleh si penulisnya. Seting tempat dan lokasi cukup kena dalam ilustrasi penggambarannya. Membuat pembaca mudah larut dalam cerita yang memilih konflik batin ini.
Cerpen selanjutnya yang menjadi judul buku ini, “Aroma Cinta di Commuter Line”. Cerpen ini berkisah tentang patah hati ‘si aku’ Tyo. Kisah dibuka ketika Tyo menonton pertandingan sepak bola di Bukit Jalil Malaysia. Meski suasana euforia penonton sepak bola terasa kurang dieksplor lebih. Sesudah pulang itu, Tyo teringat dengan seorang gadis di Bandara Soekarno Hatta yang dikaguminya: Dia terlihat anggun dengan pakaian serba menutup aurat yang dikenakannya. Yang terlihat hanya wajahnya yang begitu teduh. Sungguh mempesona hingga aku pun bergumam, semoga saja nanti aku dapat memiliki seorang istri seperti dia, (hal 10). Kelak pembaca akan diberitahu gadis itu bernama Winda.
Lantas cerita beralih pada ingatan Tyo tentang perempuan dari masa lalu, yang dikaguminya waktu SMA. Wanita itu bernama Qonita. Dan malam ini moment ulang tahun Qonita. Terjadi percakapan-percakaan lewat SMS antara Tyo dan Qonita lengkap dengan waktu terkirim jam dan detiknya, yang saya rasa sangat tidak perlu untuk dicantumkan.
Esoknya Tyo pun naik Commuter Line lagi dan bertemu dengan Winda. Saat Tyo melihat Winda, Tyo merasa Winda adalah tipe wanita yang diidam-idamkannya. Besoknya sengaja Tyo memilih naik Commuter Line ketimbang mengendarai mobil pribadi saat pergi ke kantor. Tiga bulan berlalu Tyo hanya berani menatap Winda dari jauh. Namun pada akhirnya Tyo memberanikan diri untuk menyapa Winda, dan mengalirlah percakapan-percakpan. Mereka makin akrab dan dekat. Tyo makin manaruh harapan pada Winda, dan ingin sekali dijadikannya calon istri.
Namun kenyataan berkata lain. Tyo baru tahu dari Rasya, teman dekat Winda yang mengatakan jika bulan depan Winda akan menikah dengan orang lain. Tentu saja hati Tyo hancur. Namun pada akhir cerita, Tyo akhirnya melamar Rasya. Meskipun tidak sesuai dengan keinginan awalku, aku tetap bersyukur karena telah diberikan seorang wanita yang begitu baik dan solehah. Sesuai dengan doa dan harapanku ketika aku berada di Stadion Bukit Jalil. Aku teringat pada salah satu firman Allah yang berbunyi; yang baik menurumu belum tentu baik menurut-Nya, dan yang buruk menurutmu belum tentu buruk menurut-Nya.

Hal yang ingin saya katakan ketika membaca cerpen-cerpen dua penulis ini, bahwa keduanya memiliki gaya penceritaan yang berbeda. Masing-masing mempunyai kekuatan berbeda dalam penuturan alur dan konflik cerita yang dibangun. Pada cerpen-cerpen Yori misalnya, ia berhasil menarik pembaca untuk ikut larut pada perasaan si tokoh lewat cerita-cerita gubahannya. Membuat pembaca masuk dan seolah mesti ikut bersedih hati lewat kisah yang dialami si tokoh. Yori tidak begitu memusingkan pesan apa yang ingin disampaikan dalam cerpennya. Ia bisa meleburkan itu. Tapi tidak dengan Bili yang tiap cerpen-cerpennya, jika kita baca seakan Bili ingin menekankan ‘pesan’ atau amanat dari semua cerpennya. Itu terbukti pada ending cerpen “Aroma Cinta di Commuter Line” atau seperti pada cerpen “Assadku Tersayang” yang bercerita tentang seorang Kakak yang sebal memiliki seorang adik pemalas, namun saat si adik masuk pesantren, kemudian berubah jadi baik, si Kakak kemudian jadi makin sayang.
Pesan yang kentara kira-kira begini ditulis oleh Bili pada ending cerpen “Assadku Tersayang”: memasukan anak ‘nakal’ ke pesantren memang bukan sebuah jaminan bahwa anak tersebut bisa berubah lebih baik. Semua tergantung dari kemauan anak itu sendiri. Dan Assad, adikku, telah membuktikan pada dirinya sendiri bahwa dia mampu berubah menjadi anak yang lebih baik, bahkan mampu menularkan perubahan baiknya itu padaku (hal 35).
Menurut saya, pesan yang ingin disampaikan penulisnya terkesan amat mencolok. Bili mesti hati-hati dalam membuat cerpen, agar pesan yang ingin disampaikannya tidak jatuh seperti para pengkhotbah; pesannya terlalu jelas dan terkesan menggurui.

Bicara mengenai pesan dalam cerpen, saya lantas teringat akan ulasan S.Yoga pada buku kumpulan cerpen La Rangku karya Niduparas Erlang (Yayasan Seni Surabaya 2011). Yoga mengatakan bahwa, pesan itu pada prinsipnya bukan suara tokoh-tokoh dalam kisah tersebut, mereka hanya dipinjam namanya untuk menyuarakan opini pengarangnya. Maka tak heran kalau kita jumpai banyak cerpen seolah artikel opini, yang kebetulan dibuatkan kisah, seting, alur dan tokoh…. Mereka mengabaikan kesadaran berbahasa, pernak-pernik dan detail, rincian cerita, serta kesabaran berkisah.
Selebihnya, seluruh cerpen yang terangkum dalam buku “Aroma Cinta di Commuter Line” ini kiranya pas untuk mereka-mereka para remaja yang sedang galau, patah hati atau kangen pada kekasih. Maka bacalah buku ini sebagai obat mujarab dari rasa kangen yang maha dasyat itu. Selamat membaca dan merasakan aroma cinta pada setiap lembar-lembar ceritanya.

Judul : Aroma Cinta di Commuter Line
Pengarang : Yori Tanaka & Siti Sabili Jahro
Penerbit : Nekad Publishing, 2013
Tebal : 83 halaman

