Bagi kita itu mungkin hanya mimpi, tetapi di Inggris sekolah seperti itu dipraktikan. Sekolah itu bernama Summerhill yang didirikan oleh A.S. Neill pada 1921 di Jerman yang kemudian pindah ke Inggris. Sekolah revolusioner ini membebaskan siswa-siswinya hidup sesuka hati mereka. Mereka bebas bermain-main sesuka mereka, berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Mereka boleh mangkir dari pelajaran-pelajaran yang ditawarkan sekolah. Fasilitasnya pun lengkap: kolam renang, bengkel kerja, laboratorium, ruang kesenian, ruang teater, alat musik, perpustakaan, dan ladang, dan banyak hal yang jadi kebutuhan pendidikan.

Surga pendidikan ini telah melahirkan banyak alumni yang sukses secara psikologis, ekonomis, akademis, sosiokultural, dan politis. Mereka menjadi insinyur, dokter, dosen, pemusik, pengusaha, mekanis, koki, dan segala macam profesi yang berpikiran maju dan terbuka, jujur, tekun, optimis, dan bahagia.(lih sinopsis)

Hal ini menarik untuk menjadi bahan kajian dan renungan semua pihak, terutama bagi mereka yang terjun menceburkan diri diranah pendidikan. Kurikulum Merdeka Belajar yang kini tengah disosialisasikan di sekolah sekolah nampaknya baru langkah awal yang mesti didukung oleh pemahaman dan kesiapan para guru dalam memerdekakan para peserta didik menikmati proses belajar mereka dengan lebih manusiawi dan menyenangkan.

Kita kembali ke Summerhill School. Ide kebebasan yang ditawarkan A.S Niell bisa menjadi pertimbangan untuk menata sistem pendidikan masa depan yang lebih mencerahkan. Dalam bab 2 buku ini A.S. Niell berkeyakinan bahwa anak pada dasarnya memiliki sifat bawaan bijaksana dan realistis, selama dibiarkan begitu saja tanpa arahan apapun dari orang dewasa, anak akan berkembang dengan sendirinya sejauh kemampuannya.

Logikanya Summerhill adalah suatu tempat yang di dalamnya anak-anak yang misalnya memiliki kemampuan bawaan dan keinginan jadi pemain bola akan jadi bintang bola, sementara yang cuma cocok menjadi tukang sapu jalanan akan menjadi tukang sapu jalanan. Namun menurut pengakuan Niell sejauh ini mereka belum pernah menghasilkan tukang sapu jalanan, bukan karena menyombongkan diri, sejatinya kami lebih suka sekolah yang mencetak tukang sapu jalanan yang bahagia daripada sekolah yang menghasilkan sarjana neurotik.(lih:43-44)

Akan lebih banyak lagi ide gila yang kita temukan di setiap lembaran kertas buku ini dan satu kalimat yang bisa mewakili adalah Kebebasan bebas memilih dan menentukan jalan hidup yang hendak ditempuh. Karena apapun yang dipaksakan itu hanya akan mencuatkan ketakutan, kebencian, sekaligus sikap munafik yang penuh kepura-puraan.
Di Indonesia tentu sudah bertebaran sekolah-sekolah yang berorientasi pada minat dan bakat para peserta didik. Contoh nyata yang saya kenal adalah Komunitas Rumah Dunia Asuhan Gol A Gong.

Alumni alumni atau yang pernah belajar dari Rumah Dunia bertebaran mengaplikasikan ilmu yang dipelajarinya yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu. Ada yang jadi dosen, guru, pemusik, penulis skenario, wartawan, seniman teater, penyair, dan banyak lagi.

Semua itu karena mereka belajar sesuai dengan minat apa yang ingin mereka pelajari, bukan karena target pencapaian kurikulum yang cenderung administratif dan membosankan. *

Judul : Summerhill School – Pendidikan Alternatif yang Membebaskan
Penulis : A.S Neill
Penerjemah : Agung Prihantoro
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Tebal : 356



