Oleh Indra Maulana
Kehidupan seringnya berjalan tidak sesuai yang kita inginkan. Terkadang hidup membawa kita pada sebuah persimpangan yang membingungkan, harapan yang tersamar oleh kabut, dan nasib baik yang belum mau memberi jalan. Di tengah kegelisahan karena menjadi pengangguran, ada satu buku yang pelan-pelan mengubah cara saya memandang hidup, terutama saat saya sedang berada di titik paling rendah.

Buku itu berjudul Man’s Search For Meaning karya Victor E. Frankl, Seorang psikiater asal Austria, korban kamp konsenstrasi Nazi yang berhasil bertahan hidup. Dalam buku ini, Frankl tidak hanya bercerita mengenai kekejaman Nazi, tapi juga tentang bagaimana manusia bisa tetap bertahan hidup secara mental dan spiritual di tempat paling mengerikan yang pernah dibuat oleh manusia. Karena itu, sebagai pembaca saya ikut terbawa dalam proses mencari makna yang ia tawarkan.
Buku ini terdiri dari dua bagian, pertama, buku ini menceritakan pengalaman Frankl ketika ia berada dalam kamp konsentrasi. Sebuah tempat yang menjadi pusat penyiksaan dan pembunuhan, yang dilakukan oleh orang-orang Nazi. Bagian ini sungguh menyentil sisi kemanusiaan saya, bagaimana bisa manusia lainnya bisa berbuat sekejam itu, meski pada faktanya itu memang terjadi. Bayangkan: semua hal yang kita cintai, yang kita anggap wajar dalam hidup seperti, kebebasan, kasih sayang, keluarga, hak atas tubuh kita sendiri dirampas begitu saja.

Banyak orang mati oleh gas beracun atau peluru, namun di kamp ini juga banyak orang memilih bunuh diri karena kehilangan harapan. Karena itu, Frankl berpendapat, orang yang kehilangan “mengapa” untuk hidup, cepat atau lambat akan kehilangan kemampuan untuk bertahan.
Masih terbayang di kepala saya, ketika Frankl menceritakan tentang seorang tahanan yang bermimpi akan dibebaskan pada hari-hari tertentu seperti natal. Namun, hal itu tidak pernah terjadi, harapannya pun pelan-pelan lenyap dan ia jatuh sakit dan meninggal. Menurut Frankl, tahanan tersebut meninggal bukan karena diserang penyakit mematikan, tetapi karena telah kehilangan alasan untuk hidup. Dari cerita tersebut, saya jadi tersadarkan: ternyata makna hidup merupakan bahan bakar paling kuat untuk bertahan.
Bagian kedua buku ini, merupakan penjelasan secara ringkas mengenai teori psikologi yang dikembangkan oleh Frankl: Logoterapi. Inti dari logoterapi ini terasa sederhana tapi sangat dalam dan mengena. Menurut Frankl, manusia bisa menanggung setiap penderitaan, selama kita tahu untuk apa menjalaninya. Dalam teorinya, Frankl menekankan tentang betapa pentingnya pencarian makna. Baginya, mereka yang tahu ‘mengapa’ harus hidup, akan tahu ‘bagaimana’ caranya untuk hidup.

Rasanya Teori ini menjadi begitu relate dengan hidup saya. Di masa-masa penuh penderitaan karena belum juga mendapat pekerjaan, hidup yang seperti kehilangan arah. Frankl membuat saya sadar: bahwa manusia bisa tahan pada penderitaan, asal kita tahu untuk apa kita melakukan itu. Mungkin perasaan kosong dalam menjalani hidup, karena saya belum tahu makna hidup saya. Dan setelah baca bukunya ini, saya tercerahkan, bukan hidup yang memberi saya makna, tapi sayalah yang memberi makna pada hidup itu sendiri.
Menurut Frankl, makna hidup bisa ditemukan lewat tiga jalan: Pertama, lewat karya atau pencapaian, Kedua, lewat pengalaman, terutama cinta. Ketiga, lewat sikap terhadap penderitaan.
Sebagai pengangguran yang tanpa karya, tanpa cinta, pilihan ketiga adalah jalan yang paling mungkin untuk saya tempuh. Saya mempunyai kebebasan untuk memilih bagaimana cara saya menyikapi penderitaan karena menganggur ini. Saya mulai mengajukan pertanyaan yang berbeda pada diri saya, bukan lagi “kenapa saya belum kerja?”, melainkan “apa yang bisa saya pelajari dari masa menganggur ini?”.


Saya jadi berpikir, oke, saya memang belum kerja. Tapi, apakah itu berarti saya ngga bisa belajar jadi orang yang lebih sabar? Lebih tahan banting? Lebih mencoba memahami diri sendiri? Pelan-pelan, saya mulai sadar, ternyata bertahan dari ketidakpastian ini pun bisa jadi bentuk makna. Nggak semua hal produktif itu harus yang menghasilkan gaji. Kadang cukup dengan bangun pagi, nyapu, baca buku, menulis, itu pun sesuatu yang produktif.
Yang menarik dari buku ini juga adalah gaya penulisan Frankl yang tidak terkesan menggurui. Ia tidak seperti sedang ceramah atau sibuk memberi kata-kata motivasi. Frankl tidak memaksa kita buat percaya pada teorinya, tapi mengajak kita merenung.
Buku ini tidak menawarkan jawaban akan kebahagiaan, tetapi memberi ruang untuk bertanya ulang tentang hidup. Mungkin, memang itu yang kita butuhkan, bukan solusi instan, tapi penawaran sudut pandang yang lebih luas untuk memahami penderitaan. Dan menjadikannya sebagai bagian dari makna pertumbuhan diri.
Identitas Buku
Judul Buku : Man’s Search For Meaning
Penulis : Victor E. Frankl
Penerbit : Noura Books (PT Mizan Republika
Tahun Terbit : Cetakan ke-18, 2024
Tebal Buku : 252 Halaman
Tentang Penulis:

Indra Maulana, Lahir di Bogor, Penulis amatir yang ingin berkembang jadi mahir, semoga takdir!

RAK BUKU adalah resensi buku. Upayakan tulisannya membangun suasana lokasi membaca, personal literatur. Boleh juga menulis seperti catatan perjalanan. Panjang tulisan 500 hingga 1000 kata. Honor Rp100 ribu. Sertakan foto diri, bio narasi singkat, identitas buku, nomor WA, rekening bank, foto-foto cover buku, penulisnya sedang membaca bukunya. Kirim ke email golagongkreatif@gmail.com dan gongtravelling@gmail.com dengan subjek: Rak Buku


