Resensi Buku: Siapa Yang Salah?

            Tidak hanya itu, demi menebus rasa bersalahnya menjanjikan akan membelikan sepeda untuk Si Opik kalau puasanya khatam. Betapa girangnya Opik! Masa itu masih booming-nya main sepeda.

            Begitulah godaan puasa bisa menjangkiti siapa saja. Tidak kenal usia. Bisa saja umur boleh tua tapi penghayatan pada perintah agama seperti anak kecil pun sebaliknya, bisa saja usianya masih amat muda tapi ketaatannya mampu menjaganya dari godaan. Opik contohnya.

            Sore kemarin, saat menunggu lampu merah berkedip di Kadu Banen, tanpa malu seorang sopir truk merokok. Tanpa peduli terhadap orang sekitarnya. Meskipun ditelanjangi dengan pandangan mencela, ya anteng dia. Saya pun melihatnya jadi serba salah. Sisi lain kita punya kewajiban untuk saling mengingatkan, agama mengajarkan itu.

            Di lain sisi tak sedikit orang ditegur suka marah. Antara yang diingatkan dan mengingatkan tertukar. Mungkin lain ceritanya kalau macam si Roy, tidak puasa terus menyembunyikannya, tidak masalah.

            Masalahnya ini diumbar, sedangkan itu membuat keresahan di masyarakat. Kalau itu benar hak asasi, terus bagi kita yang puasa hak asasinya gimana? Di dunia yang serba modern ini, kita dipaksa untuk mengikuti tren. Oke sih kalau tren itu baik lagi benar, kita salut itu. Kalau tidak, ini yang jadi soal.

            Untuk itu, memang bagus kalau pemerintah membuat aturan di bulan puasa ini untuk menjaga menarik keharmonisan. Puasa atau tidak–kalau muslim, itu hak individu. Tapi menyebarkan keresahan di masyarakat, ya itu menggores luka.

            Poinnya bukan soal melanggar puasa tapi bagaimana kita saling menghargai hak seseorang untuk menjalani ajaran agamanya. Apapun agamanya kita toleran. Mau taat atau tidak terserah. Catat satu hal, jangan memancing konflik. Itu saja.

            Bukan lagi mencari siapa yang salah. Sebagai warga yang baik kita bersikap untuk mengintropeksi diri. Ini kan bukan Ramdhan, bulan di mana kita melatih diri agar meningkatkan diri menjadi Muttaqin. Hamba-hamba yang Allah kehendaki surga. Tidak hanya di dunia juga nanti di alam keabadian. Bukankah begitu? (***)

Pandeglang,  31/3/23 /Foto-foto IDN Pictures

Mahyu An-Nafi adalah nama pena dari Mahyudin. Warga Pandeglang yang tengah mengikuti kelas menulis di Rumah Dunia angkatan ke 38. Sehari-hari berjualan di pasar dan terus berlatih menulis sambil membaca. Ia bisa ditemui di akun IG, FB, dan blog dengan nama penanya mahyuannafi.

Rubrik ini dukungan Gol A Gong sebagai Duta Baca Indonesia 2021-2025 pada Gerakan Indonesia Menulis. Naskah esai literasi dan resensi buku/film 1000 kata, 1,5 spasi, bio narasi 5 kalimat, lengkapi dengan foto diri dan pendukung, nomor WA, dan norek bank. Diutamakan penulis pemula yang aktif di komunitas literasi, pustakawan sekolah/kampus. Ada honorarium dari Honda Banten Rp 100 ribu.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==