Nah, sambil menikmati batuk yang tak kunjung sembuh, dalam 2 hari saya ditemani hasil tadabbur Al Qur’an Yai Edi yang luar biasa jleb di hati.
Buku yang konon menurut Ade Ubaidil terdiri dari 3 seri ini merupakan hasil pergumulan batin yai Edi bersama Al Qur’an dalam kehidupan keseharian beliau.
Intensitas kedekatan dengan Al Qur’an menurut pengalaman yai Edi membuatnya secara otomatis diberi petunjuk berkaitan dengan segenap peristiwa yang ia alami.

Yang menarik dari buku ini adalah kita disuguhkan oleh semacam pembuktian laku spiritual yai Edi terkait keimanannya terhadap Nash Nash Al Qur’an. Secara tegas yai Edi meyakinkan kita bahwa kebergantungan kepada Allah dan Rasulullah adalah hal paling utama yang kini tanpa sadar kita kesampingkan untuk tidak mengatakan lupakan.
Kita juga diinspirasi yai Edi untuk menggembleng laku rohani sesuai dengan kecenderungan masing-masing. Bagaimana ia mencontohkan dirinya yang hobi begadang seorang diri di kompleks kuburan atau uzlah tahanus seorang diri di suatu pantai. Aktivitas seperti ini menurut yai Edi penting kita lakukan agar tahu diri bahwa kita tak lebih makhluk fana yang rapuh dan bergantung sepenuhnya kepada kasihsayang Allah. pada puncaknya, apapun yang terjadi dalam hidup ini, duka derita, kita sadar betul semua dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Wallahu a’lam
Buku ini layak dibaca bagi mereka yang hendak merecharge iman.

Judul buku : Tak Ada Ikan Asin di Lautan
Penulis : Edi AH Iyubenu
Cetakan: Oktober 2018
Penerbit: Diva Press
Tebal: 232 hlm



