Riset Bagi Pengarang Hukumnya Wajib

Diskusi yang diikuti 30-an peserta ini diawali dengan pembacaan cuplikan cerita dari novel Rajah karya Bambang Iss WIrya oleh Tirta Nursari yang sekaligus menjadi pemandu acara. Rajah, novel yang 70% ditulis berdasarkan hasil riset ini memang menjadi pemantik diskusi di acara uyang dimulai pukul 10.00 WIB tersebut. Novel tersebut mematahkan anggapan bahwa riset hanyalah domain bagi kalangan akademisi.

“Riset seorang pengarang dilakukan dengan caranya sendiri, yaitu dengan mengamati, bertanya sebanyak mungkin, dan kemudian menuliskannya dengan indah dan santun. Tanpa perlu proposal,” ujar novelis yang dua karyanya ‘Nyi Cubluk” dan “Blaster “ meraih penghargaan Prasidhatama katagori novel sastra tahun 2021 dan 2022.

Lebih lanjut djelaskan oleh penulis buku etnografi “Jangan Panggil Aku Samin”, riset bahkan masih tetap perlu dilakukan oleh penulis cerita fiksi untuk meminimalisasi terjadinya cacat logika, sekaligus membuat karya lebih berisi. Adapun riset pada karya fiksi lebih ditekankan pada personifikasi tokoh dan fakta kejadian.

Sementara itu menanggapi pertanyaan Atik Sugiyarti tentang bagaimana caranya untuk ‘membelokkan ‘cerita dari fiksi ke non fiksi, menurut Bambang, itu dibutuhkan jam terbang dan bridging agar kalimat tetap selaras.

Tirta Nursari selaku founder dari Warung Pasinaon menyebut bahwa kegiatan ini diselenggarakan untuk saling menjalin keakraban antar penulis dan pegiat literasi sekaligus sharing kepenulisan dari praktisi senior di dunia kepenulisan untuk memotivasi para penulis agar tetap semangat untuk berkarya.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. Assalamu’alaikum wrwb. Salam literasi Bung Bola Gong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==