Tempat dan pilihan saya jatuh pada sepasang suami istri yang baik, Pak Firman dan Ibu Lani, pemilik dari usaha Rumah Makan Jingga. Rumah makan yang bernuansa Jingga ini pas untuk kita berkumpul bersama sahabat.

“Ada banyak kisah menarik suka dan duka di tempat ini,” begitu penuturan Pak Firman.
Rumah makan Jingga berdiri hampir 10 tahun, mengalami pasang-surut dalam usahanya. Tapi pelanggan tetap ada, rezeki sudah ada yang mengatur.

“Sekarang banyak rumah makan setipe. Tapi, dilakoni saja, ikhlas,” begitu kata Bu Islani pada saya .
Saat saya datang di pagi hari, kedua pasangan ini menyambut saya dengan aktivitas keseharian. Mereka tetap menjamu kami dengan sangat ramah dan bersahabat.

Menu favorit pelanggan di Rumah Makan Jingga adalah ayam goreng dan soto ayam. Tapi saya memilih menu lain yang tak kalah enak, yaitu tumis buncis, tahu goreng dan nugget dengan minuman teh hangat.
Selepas solat dhuzur kami ijin melanjutkan perjalanan. Seperti masa lalu yang layak dikenang, andai tak buru buru untuk kembali ke Jakarta, mungkin saya memilih waktu yang lama untuk bisa bersilahturami di sini.

Kami meyakini bahwa silaturahmi memajangkan usia dan memudahkan rezeki.



