Setelah mendapatkan materi, para peserta diminta langsung menulis premis calon tulisan. Mereka diarahkan untuk menulis esai tentang kearifan lokal Papua. Beberapa orang mengajukan tema seperti kerajinan noken, bahasa daerahdan, koteka dan kali Biru.

Alfa Husna, Pustakawan Ahli Madya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengatakan, bahwa tulisan yang dibuat oleh para peserta nantinya akan diunggah di laman Perpustakaan Nasional. Selain itu ada insentif bagi para penulis sebagai reward. Bahkan bukan tidak mungkin tulisan-tulisan dari para peserta bisa dijadikan buku antologi.


Fladelina Violetha Aiwoy, salah satu peserta pelatihan mengaku akan menulis tentang noken. Ia memberi judul pada tulisannya Noken Adalah Perempuan Papua. Menurutnya noken adalah simbol cinta dan kehidupan bagi masyarakat Papua.

Sementara itu Gol A Gong menjelaskan bahwa tulisan dari para peserta bersifat creative writing, bukan academic writing. Sebab nantinya hasil dari pelatihan ini, jika dibukukan akan dipajang di perpustakaan-perpustakaan. Jika ditulis dengan academic writing dikhawatirkan akan bosan dibaca oleh pemustaka. Ia juga menyarankan untuk menulis berdasarkan pengalaman pribadi, jangan banyak memberi definisi atau mengutip dari internet. (Rudi Rustiadi/Asisten DBI)




