Saya susuri jalanan sepanjang 2 km itu. Indonesia mini berdetak di sini. Semua orang sibuk berkegiatan. Ada transaksi yang mereka lakukan dengan gembira.

Tukang kerupuk, tukang jamu, penjual balon, sayur-sayuran, ibu-ibu, bapak-bapak. Semuanya saling senyum dengan ramah saat menjual dan membeli. Betapa indah pagi ini.

Saya terus berjalan. Tidak jauh dari jembatan, ada warung ketan Bu Rachmawati. Di depannya ada 2 penyanyi buta – tampaknya suami istri. Pikiran dan imajinasi saya bergerak. Ini bisa jadi lokasi cerita. Saya harus mencari tokoh dan konfliknya.

Saya langsung masuk ke warung ketan. Memesan ketan bubuk 1 porsi, 2 tempe, nasi rawon, dan teh manis. Saya makan di depan warung – ada meja, sambil menikmati lagu minus one dari penyanyi tuna netra, menyanyikan lagu “Ikan dalam Kolam” dari Yeni Inka. Saya terpesona dengan liriknya, seperti pepatah Tiongkok:

Bila ingin melihat ikan
Di dalam kolam
Tenangkan dulu airnya sebening kaca
Bila mata tertuju pada
Gadis pendiam
Caranya tak sama menggoda dara lincah
Jangan, jangan dulu
Janganlah diganggu
Biarkan saja, biar duduk dengan tenang
Senyum, senyum dulu
Senyum dari jauh
Kalau dia senyum tandanya hatinya mau

Rasanya nikmat sekali sarapan ketan, nasi rawon, sambil diiringi lagu dari perempuan tuna netra itu. Liriknya meresap. Orang-orang yang jualan dan belanja ketika melintasi mereka, tidak lupa meletakkan uang recehan Rp. 2000,- – Rp. 5000,-
Gol A Gong



