Di rumah ini biasanya aku menjadi elemen pengendali bahan logistik. 🤣 Soal masak-masak ada di bawah pengaturanku. Selain memikirkan selera seluruh umat dalam rumah, aku juga harus memperhitungkan ketahanan dompet.

Anak-anak -jika mereka ada di rumah- membantu seperlunya. Jika terpaksa mengambil alih memasak, biasanya mereka akan bertanya soal menu dan jumlah bahan.

Jika aku sudah menguasai dapur, mereka lebih memilih mencuci alat masak atau menyiapkan meja makan. Atau mereka menunggu titahku mengiris dan memotong bahan masakan.

Apakah mereka merasa terintimidasi atau jadi manja? Kurasa tidak, ya. Mereka bebas masak sendiri kapan pun, tapi biasanya bahannya beli sendiri. Atau kalau pakai bahan yang ada akan bertanya dulu ke emaknya.

Aku pasti dukung ide mereka, cuma kuminta setelah masak ya bersihkan sendiri. Anak-anak sudah hafal kemurkaan emaknya saat dapur kacau dengan bekas acara masak, atau bahan makanan yang tidak disimpan dengan baik. 😂

Seaneh apa pun hasil masakan mereka, kami apresiasi dengan menikmatinya. Seperti mereka masih mau makan hasil masakanku, walau setelahnya tetap order makanan lewat aplikasi. Kubiarkan saja, toh aku juga ikut memakannya. 😂

Sebenarnya aku bukan penganut harus masak tiap hari. Syukurnya hubby dan anak-anak juga bukan pengikut arus konvensional soal makan. Soal jenis makanan pun tidak selalu empat sehat lima sempurna. Kadang tanpa nasi, tapi harus tetap bergizi. Apalagi susu, itu pilihan masing-masing, dan tidak kusediakan. Kalau mau minum susu ya, baru beli.

Tapi sahur pertama tetap jadi momen istimewa. Hubby minta ada nasi, sayur, dan lauk. Oke.
Nasi semalam masih bersisa, dan sudah kukemas dalam aluminium foil, lalu disimpan di freezer. Jadi saat sahur aku tinggal menghangatkan di dandang.

Soto ayam adalah hasil frozen, yang kupisahkan ayam dan kuahnya. Kutambahkan tomat iris tipis, rasanya jadi lebih segar. Ada toge beku yang kurebus untuk taburan soto. Sebagai asupan protein nabati, aku potong tahu goreng dan kumasukkan ke dalam kuah soto.

Aku lihat ada semangkuk tempe goreng tepung yang lebih mirip mendoan gagal eksis. Kuiris tipis, sisihkan. Ada baso hasil belanja si sulung, kuiris tipis beberapa butir, campurkan dengan tempe mendoan gagal tadi. Kupanaskan dengan sedikit minyak, tambahkan garam. Ambil sedikit untuk hubby. Sisanya, kutambahin sambal tomat yang pedasnya level cemen. Gakpapa cemen, itu sudah ukuranku level pedasnya segitu. 🤣

Ada kerupuk hasil beli di warung. Kata anakku, kerupuk berisi tepung dan minyak. Kutambahkan, berisi angin juga. Mohon produsen kerupuk segala varian jangan marah. Toh aku juga masih suka makan kerupuk, apalagi saat gabut.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==