Orang Serang Buang Sampahnya Sembarang? Orang Serang membangun rumah, cafe, atau tempat usahanya di lahan pemerintah, bahkan di irigasi? Nggak percaya? Coba saja susuri dari Pakupatan ke Ciruas, belok ke Pontang terus saja, nanti belok ke Sawah Luhur, Kasemen, Tasik Kardi, Kramat Watu. Rute kedua dari Pakupatan belok kanan, susuri sampai Kapolda, terus Curug, belok ke Miyabon, Cipocok, pokoknya ubek-ubek saja.

Selain bangunan-bangunan yang dibangun di jalur hijau, juga sampah yang bertebaran di mana-mana memperburuk citra Kota Serang sebagai Ibu Kota Provinsi Banten. Pembongkaran kios-kios ikan di Taman Sari oleh DLH, Diperindagkop UMKM, dan PT KAI rupanya menginspirasi Penjabat (Pj) Wali Kota Serang Nanang Saefudin.



Nanang mengungkapkan, bahwa titik banjir di Kota Serang bertambah bukan hanya disebabkan oleh curah hujan yang cukup tinggi. “Penyebab lainnya sampah yang dibuang sembarangan dan bangunan-bangunan yang mepet ke irigasi bahkan menutup irigasi.”

Nanang meminta data yang valid karena banyak aliran sungai di Kota Serang, yang mestinya lebarnya sekian meter justru berkurang karena banyaknya bangunan. Ia perintahkan kepada para Camat Serang dan Cipocok Jaya untuk mendata namanya, pemilik bangunannya, usahanya apa. Pemkot mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) Kota Serang Nomor 8 Tahun 2020 mengatur tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Serang tahun 2020-2040, akan ditertibkan.

“Biasanya kalau sungai itu sekian meter itu tanah pemerintah. Ini bangunannya sudah mepet. Bahkan ada yang dibagnun di tengah. Di atas sungai ada yang membangun untuk usaha, bahkan rumah tinggal,” kata Nanang.
Kemudian, lanjut Nanang, Pemkot Serang ingin melakukan pendekatan persuasif terlebih dahulu, agar masyarakat dengan penuh kesadaran membongkar bangunan itu sendiri.


Apa yang Harry Roesli katakan, bahwa Indonesia hancur oleh 2 kelas sosial, yaitu kelas mentang-mentang kaya dan kelas mentang-mentang miskin betul adanya. Menurut kamu?
Tim GoKreaf




