IBARAT CESAR
Tentu dibutuhkan keberanian untuk menulis autobografi karena unsur subjektivitasnya tinggi. Syarat seperti apakah bukunya akan berdampak (positif) kepada masyarakat luas, si penulis public figure atau bukan, jarak atau lokus peristiwa yang ditulis itu lokal atau global, lini masanya kapan dan masih relevan tidak, serta apakah memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi.

Membaca buku “Kisah Seorang Pionir: Sepuluh Tahun Memandu Ombudsman Bali” (Pustaka Pelajar, Juni 2021) seolah saya sedang duduk mendengarkan sang penulis – Umar Ibnu Alkhatab bercerita sambil ngopi. Dia lahir di Lamakera, Solor, NTT. Maret 2022 lalu saya Safari Lirasi mulai dari Labuan Bajo higga Lembata, mampir juga di desa Lohayong, Solor. Jadi saya sedikitnya bisa memetakan kota-kota di Flores, NTT.

Ya, Umar memang sang pionir dalam arti sesungguhnya. Segala kekurangan saat terpilih jadi nahkoda perahu ombudsman Bali, dia siasati dengan jitu. Saya jadi teringat surat Julius Caesar (47 SM) kepada Senat Romawi setelah memenangi pertempuran Jela. Veni, vidi, vici bermakna saya datang, saya lihat, saya menang. Itu saya analogikan kepada Umar yang datang ke kantor Ombudsman Perwakilan Bali tanpa sarana dan prasarana. Kantor yang tidak layak. Tempat tinggal (seorang pejabat lembaga negara) yang lembab dan membuatnya sakit sehingga terpaksa tidur di kantor. Tapi Umar datang, melihat, dan menang.


