Sejak 2000, Serang diputuskan jadi ibu kota Provinsi Banten. Dengan segala kekurangannya, kita menerimanya. Itu keputusan kaum politisi di Senayan. Kita mah sebagai rakyat, manut nut sajalah. Saya sendiri kalau ditanya, ibu kota Provinsi Banten yang layak: Tangerang. Bisa, kok, sekarang dipindahkan. Ibu Kota Negara RI juga dipindahkan ke Kalimantan Timur, lho. Apa, sih, yang tidak bisa sekarang?

Kemudian pada 10 Agustus 2007, Kota Serang secara administratis terbentuk. Mulailah semua orang yang tidak berbakat jadi pemimpin, tapi karena punya uang dan kekuaaan, berebut nak panggung ingin jadi Walikota. Kita mah sebagai rakyat jelata, manut sajalah.


Nah, kembali ke monumen daerah Banten di tengah-tengah alun-alun Kota Serang. Kenapa dibiarkan terbengkalai begitu? Satu patung indisipliner; permisi ke toilet tidak pulang-pulang. Entah sudah berapa kali lebaran tidak pulang. Bang Thoyib saja 2 kali lebaran.


Saya sebagai orang Serang yang sejak 1965 menetap di lingkungan Jl. Yusuf Martadilaga, mencoba membantu mempromosikan Kota Serang. Caranya? Lewat film. Nanti di September – Oktober 2022, film Balada Si Roy tayang di bioskop seluruh Indonesia.

Setting lokasi monumen daerah di alun-alun kota Serang akan muncul di adegan pembuka. Jika pernah membaca novel Balada Si Roy, adegan Roy naik sepeda balap, ditemani anjing herder bernama Joe – warisan ayahnya, dimunculkan dengan apik oleh Fajar Nugros – sutradara dari IDN Pictures.


Kita tunggu saja reaksi penontonnya nanti, ya. Pokoknya, selamat ulang tahun ke-15, Kota Serang!
Gol A Gong


