Saya Memilih Kuliah di Jogja Film Academy

Akhir tahun 2021 tepatnya bulan September tanggal 20, saya diajak bersama om Abdul Salam untuk membuat film. Om Salam ini adalah salah satu relawan di Rumah Dunia yang pada saat saya masih kecil, ia sudah bergabung. Saya berfikir tentang ajakan dari om Salam itu untuk apa, ya. Untuk apa saya membuat film jika saya bisa menikmati karya film dari orang lain tanpa harus bersusah payah membuatnya, tanpa harus menghabiskan banyak waktu untuk membuatnya.

Namun tetapi pikiran saya tersbut saya buang jauh jauh terlebih dahulu, karena saya belum pernah mencobanya. Eh, sebelumnya saya sudah dilatih ayah untuk membuat film pendek “Pintu Surga” sebagai cameraman sekaligus aktor. Lalu saya terima ajakan dari om Salam untuk membuat film.

Keesokan harinya, tanggal 21 september 2021, kami mendiskusikan alur cerita film yang akan kami buat. Setelah beberapa jam kami mendiskusikan akhirnya sudah menemukan alur cerita sekaligus dengan naskahnya yang berjudul “Kemat”. Siang harinya kami mulai syuting, dan alhamdulillah pada saat proses syuting tidak ada kendala sama sekali.

Oh iya, Kemat adalah film pendek saya yang bercerita tentang seorang gadis perempuan diganggu oleh laki laki, yang saya ingat hanya itu.

Setelah syuting film pendek selesai, saya ditugaskan sama om Salam untuk meng-edit film Kemat. Sebelumnya saya belum pernah meng-edit film pendek. Saya harus belajar dulu di Youtube. Ayah sebetulnya sudah melatih saya meng-edit untuk program-program di akun YouTubenya. Setelah selesai belajar di youtube malamnya langsung saya edit dan besoknya saya upload di video reels instagram saya.

Sejak saat bikin film itu saya merasa ternyata yang saya pikirkan sebelumnya salah, bukan salah sih tapi lebih ke kurang tepat. Di sinilah awal mula saya suka dengan film. Ayah yang mengenalkan pertama kali ke dunia film, kemudian om Salam, membuat saya terbuka.

Menurut saya sekarang, membuat film adalah cara saya mengekspresikan apa yang saya rasa. Saya bebas mengekspresikannya dengan gaya maupun cara saya sendiri di dalam karya audiovisual. Ayah menyuruh saya untuk terus membuat film pendek bersama relawan Rumah Dunia.

Om Salam dan saya terus membuat film pendek, dan kami merekrut pemain baru yaitu Isa, anak Om Firman relawan Rumah Dunia, teman ayah, rumahnya sebelahan. Om Salam, saya dan Isa telah membuat 5 film pendek. Saya akui masih jelek, jauh dari sempurna, tapi tanpa ke-5 film tersebut saya tidak akan menjadi seperti sekarang. Sayang sekali film pendeknya hanya cuma sampai ke-5 saja. Setelah itu kami tidak membuat film pendek lagi.

Saya pernah jadi figuran di film nasional, tapi belum tayang,katanya akhir tahun 2022. Dari pengalaman di lokasi syuting, akhirnya saya benar-benar memutuskan untuk mengambil kuliah jurusan perfilman. Di Serang, Banten tidak ada kampus yang fokus di film. Hanya ada di luar Banten, seperti di Jakarta dan Jogja.

Setelah saya mecari-cari kampus, tentunya dengan yang ada jurusan perfilman, ya. Saya mendapatkan informasi tentang kampus JFA (Jogja Film Academy). Saat itu di Rumah Dunia ada syuting film Yuni karya Kamila Andini. Saya setelah itu jadi bnyak tahu tentang JFA karena beberapa crewnya dari JFA. Saya langsung memberitahu kepada ayah dan ibu, bahwa saya ingin kuliah di sana. Ayah dan ibu menyetujuinya. Setelah mendapatkan izin saya pun mendaftar di JFA lewat gelombang beasiswa.

Sambil menunggu tes masuk kampus, saya iajak sama relawan Rumah Dunia yang bernama bang Awang dan om Arip untuk syuting beberapa film. Ada yang dilombakan di FFB (Festival Film Banten) yang diselenggarakan oleh Kremove Pictures. Film kami berjudul Karang Bolong Memories. Film pendek kami hanya masuk nominasi saja, belum juara. Tapi kami senang karena ditonton dan dikenal banyak orang.

Tes interview masuk kampus pun tiba. Saya dikasih beberapa pertanyaan, mulai dari mana tau JFA hingga mengapa ingin masuk JFA. Oh iya sebelum diinterview kami disuruh membuat story board, tema-nya yaitu mulai dari bangun pagi hingga persiapan interview. Setelah interview dan story board selesai, kami hanya bisa menunggu hasilnya besok.

Keesokan harinya, pengumuman siapa saja yang di terima pun tiba. Sayang sekali saya tidak diterima lewat gelombang beasiswa. Tapi saya dimasukkan di gelombang khusus. Jadi untuk yang ikut gelombang beasiswa lalu tidak terima otomatis akan langsung diterima di gelombang khusus.

Perasaan saya senang sekali bisa keterima dan masuk di kampus JFA. Dan sekarang saya saya semakin bersemangat kuliah. *

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==