Masalahnya, adikku suka asal meminjam buku. Dia hanya memilih berdasar sampul yang disukainya. Aku sering kesal karena buku yang dipinjamnya semacam ‘cara menanam bunga’, atau ‘memelihara ikan’, dan semacamnya.

Saran Ibu dan bujukanku untuk meminjam majalah anak-anak tidak mempan. Padahal buku itu pun hanya dibukanya sambil lalu. Setelah bosan melihat gambar bunga, ikan, atau ilustrasi di dalamnya, buku pinjaman tergeletak begitu saja. Aku yang kesal akhirnya terpaksa membaca sambil mengeluhi jenis buku yang menurutku mubazir dipinjam.

Namun, ibuku yang pernah kuliah di fakultas ekonomi tak mau sia-sia dengan segala hal. Ibu lalu membacakan buku sewaan adikku. Aku yang awalnya anti jadi tertarik dan mulai ikut membaca. Itulah awal jenis how to yang kubaca. Sebuah pijakan untuk menyukai jenis buku apa pun kurasa bermula di sini.

Kegilaan membacaku seperti pundi-pundi buat Om Charles. Saat yang lain mulai malas menyewa, aku malah semangat. Pernah kumpulkan tujuh majalah sekaligus dan minta ke ibuku untuk menyewa sehari. Kontan ibuku menolak karena jatahnya cuma satu. Akhirnya aku kebingungan sendiri untuk memilih salah satunya.

Setelah Om Charles tidak pernah datang lagi, aku masih bisa numpang baca di lapak koran terdekat. Bapakku sering menyuruhku membeli koran untuk memantau pemuatan reportase beliau. Jika sudah dimuat, alm Bapak bisa menunggu honor datang melalui weselpos. Aku paling suka disuruh beli koran, karena bisa numpang baca berbagai majalah anak dan remaja di lapak itu. Sampai disusul Bapak karena lama nggak pulang-pulang.



