
Ya, mercusuar sangat bagus untuk setting lokasi novel. Di Rote Ndao, hampir tiap hari aku menghabiskan senja di mercusuar pantai Metani, Ba’a. Satu draft novel “Kutunggu di Mercusuar” selesai aku tulis.

Di NTT, ada 4 mercusuar yang aku datangi. Di Labuan Bajo, mercusuarnya trendi. Areal di sekitarnya disulap jadi waterfront city. Ada panggung terbuka, anjungan untuk memajang souvenir dan tentu pelabuhan kapal untuk ke pulau komodo.

Ngomong-ngomong soal mercusuar, tentu kita bertanya-tanya: untuk apa mercusuar dibangun? Wikipedia menulis, “Mercusuar biasanya digunakan untuk menandai daerah-daerah yang berbahaya, misalnya karang dan daerah laut yang dangkal. Salah satu mercusuar yang paling terkenal di dunia adalah Pharos di Alexandria, yang merupakan salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia.”

Aku kaget ketika tahu Mercusuar pertama terletak di Alexandria, Mesir. Padahal aku pernah ke Alexandria diundang KBRI dan Forum Lingkar Pena pada 2005 untuk berbagi pengalaman tentang gerakan literasi di Indonesia. Tentu sekarang menyesal. Masalahnya handphone aku waktu itu belum ada kameranya sehingga tidak memiliki dokumentasi yang bagus. Diperkirakan, mercusuar itu dibangun pada masa pemerintahan Ptolemy II Philadelphus, sekitar 280-247 sebelum Masehi (SM). Mercusuar ini disebut dengan julukan Pharos of Alexandria dan merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia kuno.

Kalian tahu, ada berapa mercusuar di Indonesia? Indonesia tercatat memiliki 264 bangunan mercusuar di penjuru daerahnya. Sebagian besar merupakan peninggalan Belanda saat zaman penjajahan, yang tentu saja fungsinya untuk keluar masuk kapal perdagangan. Aku belum banyak berfoto di mercusuar. Nanti akan aku sempatkan berfoto di mercusuar setiap mengunjungi sebuah pelabuhan. Siapa tahu muncul ide-ide baru menulis novel.

Apakah di kotamu ada mercusuar? Kabari, ya, ke 08111 21227. Dengan foto mercusuarnya, tentu. Siapa tahu aku ada waktu, rezeki, dan sehat sehingga bsa datang ke mercusuar di kotamu.


