Puisi Gol A Gong
MENYERUPAI SESUATU
Batu itu diseretnya sendirian ke bukit, menyerupai sesuatu, karena tak pernah sampai ke tujuan.
Danau itu dikurasnya di kala hujan, menyerupai sesuatu, karena tak pernah bayangan wajahnya menghilang.
Tanah itu digalinya di saat orang menangis, menyerupai sesuatu, karena ia akan menghadap Tuhan.
- Serang, 2 Mei 2017

Puisi “MENYERUPAI SESUATU” karya Gol A Gong ini sungguh kontemplatif dan sarat makna. Tiga baitnya seakan mengajak kita menyelami makna kehidupan, perjuangan, dan akhirnya, kematian.
- Bait 1
- Batu itu diseretnya sendirian ke bukit, menyerupai sesuatu, karena tak pernah sampai ke tujuan.
- Makna: Ini mengingatkan kita pada mitos Sisifus dari Yunani, yang dihukum untuk mendorong batu ke puncak bukit hanya agar batu itu menggelinding lagi ke bawah. Tindakan yang berulang dan tampak sia-sia. Tapi di sini, “menyerupai sesuatu” mungkin menunjuk pada perjuangan hidup manusia: keras, berat, sendirian—namun tetap dijalani, walau tahu mungkin tak akan sampai ke “tujuan” dalam arti harfiah.
- Interpretasi: Mungkin ini tentang kegigihan, tentang terus berusaha meski hasilnya belum tentu tercapai. Ada keindahan dalam usaha itu sendiri.
Bait 2
Danau itu dikurasnya di kala hujan, menyerupai sesuatu, karena tak pernah bayangan wajahnya menghilang.
Makna: Menguras danau saat hujan adalah pekerjaan yang sia-sia. Tapi justru dalam kesia-siaan itu, muncul makna. “Bayangan wajahnya” bisa ditafsirkan sebagai kenangan, trauma, atau refleksi diri yang tak pernah bisa benar-benar hilang.
Interpretasi: Ini bisa berbicara tentang seseorang yang mencoba melupakan—mungkin cinta, mungkin luka. Tapi semakin mencoba, justru semakin kuat hadirnya dalam batin.

Bait 3
Tanah itu digalinya di saat orang menangis, menyerupai sesuatu, karena ia akan menghadap Tuhan.
Makna: Menggali tanah di saat orang menangis jelas menunjuk pada prosesi penggalian kubur. Ini tentang kematian—sesuatu yang pasti. “Menyerupai sesuatu” di sini barangkali adalah penyerahan, kepasrahan, atau mungkin akhir dari perjuangan panjang.
Interpretasi: Setelah seluruh usaha dan ingatan yang tak hilang, akhirnya manusia akan kembali ke tanah. Semua perjuangan akan berujung pada pertemuan dengan Tuhan.
Kesimpulan Umum
Puisi ini merenungkan perjalanan manusia:
- Usaha yang tampak sia-sia,
- Kenangan yang tak bisa dilupakan,
- Dan akhir hidup yang pasti datang.
Semua itu “menyerupai sesuatu”—mungkin menyerupai arti hidup itu sendiri: absurd, misterius, tapi tetap dijalani dengan setia.

REDAKSI: Tim Redaksi golagongkreatif.com sengaja berdialog dengan ChatGPT tentang puisi-puisi Gol A Gong. Kita akan melihat sejauh mana kecedasan buatan ini merespon puisi-puisi Gol A Gong. Supaya tidak salah paham, puisi-puisinya ditulis asli oleh Gol A Gong. Kebanyakan puisi-puisi lama. Semoga metode adaptasi dengan kecerdasan buatan ini membuka wawasan berpikir kita tentang isi hati penyair. Selebihnya, kita tertawa bahagia saja, ya.


