Sidharta, Santiago, Resbob, Hingga Jack Ma

-Menu Pembuka Menuju Literacy Journey oleh Gol A Gong-

Jika diberikan kemudahan oleh Allah SWT, pada 22 Desember 2025 nanti, kali kelima aku mengadakan perjamuan dengan kota Bangkok. Tak bisa kupungkuri, Bangkok kota yang memesona. Amazing! Aku ingat pada November 1991, pertama kali merayakan kemenangan ketika memasuki kota Bangkok dengan si Master – sepeda yang aku kayuh dari Kuala Lumpur selama 50 hari! Tapi kemudian dengan hati pedih, sepeda itu harus aku jual di Khao San karena tidak bisa masuk ke Burma!

oOo

Paul Theroux (91), travel writer asal  Amerika menggambarkan Bangkok sebagai kota yang memukau sekaligus membingungkan, karena terasa kontras antara kemewahan modern dan suasana eksotis. Itu aku rasakan juga ketika tidur di wat atau kuil yang religius tapi juga sex holiday dilegalkan. Cobalah berkunjung di malam hari ke Patpong Night Market. Kedua lututku gemetar ketika tubuh perempuan dijual murah di jalanan. Atau ke stasiun kereta api Hua Lampong. Aku tertipu dengan mulus kulitnya karena mereka adalah ladies boy – lelaki yang berpenampilan seperti perempuan.

Tapi ketika aku mencari sarapan di food street kawasan turis bernama Khao San, harum Budha yang terbebaskan dari penderitaan dunia, menusuk penciuman mata batinku. Para bikhsu atau monk berjalan berurutan ibarat orang Baduy di Banten Selatan sambil memeluk baskom berwarna keemasan. Warga Kota Bangkok berderet berdiri di depan pintu rumah atau di depan toko; mereka memberi sedekah berupa sarapan kepada para monk beseragam orange itu. Terasa khidmat sekali.

Imajinasiku saat itu melayang ke Sidharta Gautama yang bertapa di bawahan pohon sejenis beringin (peepal) – kemudian kita kenal sebagai pohon Bodhi (Dee menamai tokohnya ‘Bodhi’ di Supernova 2) karena Sidharta mendapat pencerahan, terbebas dari penderitaan seperti hawa nafsu, rasa benci, dan ketidaktahuan.

Dari dulu jika mengaitkan Bangkok (Thailand) yang mayoritas pengikut Budha dengan pohon Bodhi (pencerahan), aku awalnya merasa heran dengan Sidharta yang ingin terbebas dari hal duniawi dengan meninggalkan tahta, harta, dan wanita. Rupanya dengan mengalami (bukan mempelajari) penderitaan, kebahagiaan diri tercapai. Berarti Sidharta itu tidak bahagia dengan segala hal duniawi. Aku sempatkan nonton film “Little Budha” (Keanu Reeves, 1993), juga membaca novel filosofis “Sidharta” (Herman Hesse, 1922). Di masa kini, novel Sang Alkemis (Paulo Coelho, 1988) dengan tokoh Santiago juga sama, meninggalkan zona nyaman.

Saat di SMA (1980-82), aku pernah menonton film musikal berjudul “King and I” (1956) yang diperankan oleh Yul Brynner. Juga film “Anna and The King” (1999) yang diperankan Jodie Foster. Aku tertawa terhibur karena akting Brynner yang plontos sebagai Raja Mongkut dari Siam (Thailand), yang ingin memodernisasi negaranya lewat ketiga puteranya. Dia mendatangkan guru dari Inggris. Tapi kemudian yang dipertontonkan adalah karakter Raja Mongkut itu terkesan bodo dan tidak tahu apa-apa , sehigga film itu dilarang di Thailand.

Di era sekarang, banyak sekali “drama keluarga” terjadi. Bukan hanya di sinetron saja, tapi ini memang fakta. Dulu kita hanya mendengar dari bisik-bisik tetatanga atau media massa koran bahwa banyak remaja Indonesia broken home. Novel “Ali Topan Anak Jalanan” (Teguh Esha, 1977) adalah novel yang memotret fenomena keluarga metropolitan itu.

Kini di era gelombang ketiga (Alfin Toffler, 1980) hampir tiap detik terhidang. Mental healt dan healing jadi trend. Anak-anak muda (gen Z dan gen Alpha) Indonesia jangan seperti Resbob yang mencari validasi dengan menghina suku Sunda di medsos dan berakhir di prodeo, tapi cobalah membaca perjalanan spiritual Sidharta dan Satiago agar Indonesia Emas 2045 terwujud. Syukur-syukur seperti Jack Ma pendiri e-commerce Alibaba!

oOo

Aku membayangkan berdiri di atas perahu yang meluncur perlahan di sepanjang Sungai Chao Phraya, merasakan angin sepoi-sepoi berembus dari Wat Arun…   

Kenanganku terlempat lagi ke peristiwa 1991 itu. Setelah aku menjual sepeda yang kujuluki “Si Master”, tiga bulan aku menjelajah Thailand. Dengan perahu motor menikmati perkampungan di kanal-kanal (seperti di kota Banjarmasin) kota Bangkok. Juga Ayutthaya untuk menikmati kepala Buddha yang terjerat akar pohon di Wat Mahathat, ke Museum opium, Provinsi Chiang Rai 57150 di seberang Pelabuhan Segitiga Emas. Dan aha – pesta tuak di sebuah desa berbatasan dengan Burma, Thailand Utara. Tiga bulan di Thailand itu aku tuangkan dalam novel “Bangkok Love Story” (Gramedia, 1994).

Nanti pada 22 – 25 Desember 2025, aku berada di Thailand lagi. Tulisan ini adalah menu pembuka “Literacy Journey” (dengan tagline from Banten- Indonesia to The World), 22 Desember 2025 hingga 12 Maret 2026. Aku bisa ke sana lagi ketika Indra Defandra, CEO SIP Pulishing, memintaku jadi mentor menulis catatan perjalanan (travel writing) ke Bangkok dan Pattaya. Pas! Desember 2025 ini, amanahku sebagai Duta Baca Indonesia sejak April 2021 usai sudah.

Aku terima tawaran Indra itu, karena pas juga dengan “Literacy Journey”-ku! Kata Indra, sekitar 20-an peserta terlibat. Nanti outputnya sebuah buku perjalanan. Aku dan SIP Publishing sudah sejak 2022 melakukan kerjasama pelatihan menulis yang kemudian tugasnya diterbitkan jadi buku. Sudah ratusan buku diterbitkan.

Indra Defandra dan rombongan SIP Publishing kembali ke Indonesia pada 25 Desember 2025 (Selamat Hari Natal bagi yang merayakan), aku bersama 2 anakku – Jordy dan Natasha – meneruskan “Literacy Journey” ini ke Nong Khai (Thailand Utara). Menyeberang ke Laos, Vietnam, Tiongkok, Kazkhstan, Uzbekistan, Turkmenistan, Azerbaijan, Georgia, Turkiye, UEA, Malaysia, pulang…

Salam Ransel
Kota Serang, 19 Desember 2025
Gol A Gong, Traveler and Author

#resbob #sidharta #santiago #mentalhealt #healing #travelwriting #golagong #literacyjourney #frombantenindonesiatotheworld

Artikel yang Direkomendasikan

1 Komentar

  1. Wuihh
    Komplet!

    Aku membayangkan berdiri di atas perahu yang meluncur perlahan di sepanjang Sungai Chao Phraya, merasakan angin sepoi-sepoi berembus dari Wat Arun…

    Asikkkk!

    Aku sendiri belum pernah menikmati Thailand sebegitunya. Dilancarkan ya, Kang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==