Traveling: Gajah Mada di Mojokerto

Oleh Gol A Gong

Mobil si biru – mobil dinas Duta Baca Indonesia, parkir di alun-alun Mojokerto, 29 September 2025. Naufal – relawan Rumah Dunia bergantian menyetir bersama Rudi Rustiadi, asistenku.

GAPURA

Aku kaget juga ketika mengitari pandang. Ada banyak perbedaan. Terakhir kali aku ke sini pada Februri 2022. Kini bangunan dengan rangka baja melintang sebagai gerbang. Di lantai 2 tempat pameran, café, dan jajanan lainnya. Di bawahnya tempat parkir. Tapi bagiku, gapura Wringinlawang semakin kokoh berdiri.

Saroni dari Sangkar Buku menjelaskan, “Gapura Wringinlawang dalam bahasa Jawa berarti ‘Pintu Beringin’. Gapura ini peninggalan kerajaan Majapahit abad ke-14 yang dijadikan gerbang untuk seluruh perkantoran di Mojokerto.”

Tapi yang menarik bagiku adalah patung Gajah Mada yang bertebaran di setiap sudut kota Mojokerto. Di persimpangan jalan, di alun-alun, juga di dpan gedung Kodim.

AMUKTI PALAPA

Masih terngiang-ngiang omongan Bapak ketika aku di SMP, tahun 1970-an. “Sebelum keliling dunia, ingat janji Amukti Palapa Gajah Mada, yang ingin menyatukan nusantara.”  

“Maksud Bapak?” Waktu itu aku belum paham betul arti amukti palapa, yang ternyata Bahasa Jawa kuno.

“Kamu harus mengenal dulu nusantara ini. Kelilingin dulu Indonesia,” kata Bapak tegas.

Aku memang bercita-cita ingin keliling dunia. Lantas apa hubungannya dengan Amukti Palapa?

Ternyata itu Amukti Palapa adalah sumpah Gajah Mada saat upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit.

“Amukti Palapa! Aku bersumpah tidak akan bersenang-senang atau foya-foya sebagai seorang patih kalau belum berhasil menyatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit!” begitu menggelegar suara Gajah Mada sambil menghunus keris ke langit.

Bagiku ini sumpah yang gila. Janji harus ditepati. Jika tidak, maka Gajah Mada termasuk orang yang munafik, karena ingkar dengan janjinya. Tapi nyatanya tidak ingkar. Gajah Mada berhasil menyatukan nusantara.

Maka mengikuti anjuran Bapak, sebelum keluar negeri, aku mulai menyusuri nusatara. Dari Sabang, kota demi kota, aku jelajahi. Ini seperti halnya Gajah Mada dengan Amukti Palapa: menyatukan Nusantara.

DOKUMENTASI

Aku gembira dan bahagia bisa berkunjung ke Mojokerto untuk yang kesekian kalinya. Tapi yang ini sagat istimewa karena berhasil berfoto dengan latar belakang Gajah Mada.

Setelah selesai mengisi pelatihan di SMKN 2 Mojokerto, si biru melintasi gedung Kodim. Aku langsung minta berhenti kepada Naufal yang menyetir.

“Masuk, masuk ke Kodim!” teriakku.

Naufal ragu-ragu.

Aku menunjuk ke patung Gajah Mada yang menjulang tinggi. “Aku ingin berfoto dengan latar belakang Gajah Mada!” kataku.

Si biru masuk. Aku turun dan lapor kepada petugas jaga. Aku ungkapkan keinginanku berfoto bersama Gajah Mada.

“KTP!” pinta petugas tegas

KTP aku serahkan.

Setelah dicatat, aku diberi waktu untuk berfoto. Tapi persis pukul 10.00 WIB, aku harus berhenyi. Kami diharuskan dalam posisi sikap smpurna. Ternyata terdengar lagu Indonesia Raya dari pengeras suara.

“Sekarang setip pukul 10 pagi, diputar lagu Indonesia Rasa. Di sekolah, di pusat keramain, dan di gedung-gedung pemerintahan,” kata petugas TNI.

Setelah selesai berfoto, kami mengisi bensin. Eh, di depan pom bensin, patung Gajah Mada berdiri gagah. Aku meminta Rudi untuk memotretku.

Sungguh pengalaman yang menyenangkan berada di Mojokerto. Aku berhasil memiliki foto dengan orang yang aku kagumi: Gajah Mada. (*)

Serang 24 Oktober 2025

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==