Namanya Pak Karim. Tubuhnya kurus, kulitnya legam terbakar matahari. Rambutnya jarang disisir, bajunya selalu sama: kemeja lusuh dan celana panjang yang sudah bertambal di lutut. Anak-anak kota yang datang ke desa sering memandangnya dengan ragu, bahkan takut.

Tapi siapa pun yang pernah duduk bersamanya di bawah pohon randu tua, pasti akan pulang dengan hati yang hangat.

Pak Karim memang tidak sekolah tinggi. Tapi cara ia bercerita tentang kehidupan—tentang kehilangan, tentang sabar, tentang cinta yang tak harus memiliki—mampu membuat pendengar termenung. Ia tahu kapan harus diam, kapan harus menasihati, dan kapan harus melucu. Suaranya pelan, dalam, dan menenangkan—mirip suara radio lama yang diputar saat hujan turun.

Suatu hari, seorang pemuda dari kota yang sedang penelitian di desa itu bertanya, “Pak, kenapa Bapak bisa bicara sebijak itu, padahal katanya Bapak cuma lulusan SD?”

Pak Karim tersenyum, menunjukkan giginya yang tinggal separuh. “Karena saya lebih banyak mendengar daripada bicara. Dan saya belajar dari luka, bukan dari buku.”

Pemuda itu terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasa kecil di hadapan seseorang yang sederhana.

Malam itu, di catatan lapangannya, ia menulis: “Hari ini saya bertemu seekor gagak yang bersuara murai. Dan saya malu karena terlalu lama menilai orang dari kulit luarnya saja.”

Gol A Gong/ChatGPT

REDAKSI: Di meja makan bukan sekadar tempat orang atau sebuah keluarga makan. Di sana akan banyak ditemukan cerita-cerita sebuah keluarga tentah ayah, ibu, dan anak-anak. Juga cerita-cerita penuh makna agar kita tidak selalu memikirkan perut. Tapi di meja makan kita bisa juga mendengarkan mutiara-mutiara kehidupan agar kita bisa selamat menjalani kehidupan ini.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==