Tapi, perhatian Pemerintah Kota Serang (Pemkot Serang) pada guru atau tenaga pendidiknya dinilai Encep masih kurang. Padahal, kata Encep, salahsatu keberhasilan pendidikan adalah guru. Kalau tidak ada guru, tidak akan berjalan. “Saya melihatnya demikian, Pemkot Serang kurang perhatian sama guru. Seharusnya apresiasi untuk guru bisa diseimbangkan dalam hal kesejahteraan guru misalnya. Coba dibantu jika ada guru yang belum tuntas kuliahnya, pada guru yang berprestasi bisa diberikan support beasiswa dari Pemkot Serang dan lain-lain,” kata Encep kepada wartawan, Jumat (5/8/2022).

Encep membandingkan dengan Kota Cilegon. Di sana, menurut Encep guru-gurunya mendapat honor tambahan dari Pemkot Cilegon. Ada honor daerah atau tunjangan untuk guru dari daerah. Besaran honornya sekitar Rp.500.000,-. Honor itu diluar gaji pokok.

“Sejak 2014 hingga sekarang saya mengajar di sini (SMK Al-Bana Kota Serang-red), saya belum pernah dapat tunjangan untuk guru dari daerah atau dari Pemkot Serang. Bahkan ngedenger kabarnya aja ga pernah,” ujar lulusan S2 jurusan Pendidikan Agama Islam, UIN Banten ini.

Encep berharap, Pemkot Serang bisa memberikan perhatian lebih pada guru. Pasalnya banyak guru-guru di Kota Serang yang masih jauh dari kata sejahtera. “Guru-guru di kita itu masih belum sejahtera. Sementara tuntutan ngajar banyak. Misal harus setiap hari datang ke sekolah dan lain-lain, tapi tidak seimbang dengan pendapatan. Sekarang honor guru yang diterima kisaran Rp.300.000,- hingga Rp.500.000,- dalam sebulan. Mana cukup untuk biaya hidup dan lain-lain?” ujarnya.

Encep berharap, Pemkot Serang bisa mengangkat kesejahteraan guru dengan menaikkan gaji guru setara dengan Upah Minimun Regional (UMR). “Harapanya semoga gaji guru bisa UMR. Soalnya kita-kita gajinya cuma dapat dari sekolah saja. Belum lagi honor guru baru cair setelah tiga bulan kemudian. Katanya slogan Kota Serang ‘Aja Kedor!’ Ini malah honor guru dibiarin kendor!” Pungkasnya.


