Surat dari Qatar: Kisah Seru, Kasih, dan Selisih yang Tersisih di Novel Sang Pangeran dan Janissary Terakhir

Dan, alhamdulillah oleh beliau diretweet dan dikomentari di postingan Instagram juga, dengan “tantangan” untuk review lengkap novel ini.

Saya merasa bersalah karena novel setebal 631 halaman ini saya lalap habis hanya dalam sekira 6 jam, demi memenuhi kesanggupan saya untuk membuat resensi ini.

Dengan berlatar belakang Perang Diponegoro (1825-1830), novel ini mengajak kita mengikuti petualangan Katib dan Nurkandam dari Istanbul sampai ke Pulau Jawa.

Salah satu yang membuat novel ini menantang adalah faktor linguistik. Saya seringkali terhenti hanya untuk mencari padanan kata dan istilah yang tidak diiringi keterangan atau terjemahan langsung.

Bahkan untuk “Janissary” saja saya harus menonton beberapa video di Youtube untuk memenuhi dahaga penasaran.

Walau pun saya blasteran Bandung-Kutoarjo, tapi hanya sedikit sekali menguasai bahasa Jawa.

Tapi faktor itu juga yang pada akhirnya memperkaya kosakata dan pengetahuan.

Satu lagi adalah tantangan kesabaran, karena saya harus membaca beberapa bab sampai mencapai “turning point events” yang sangat penting. Dengan kelihaian ustadz Salim bertutur dan merangkai kata, kekuatan “kisah” di dalam novel ini menjadi warna yang paling bersinar.

Kasih dan selisih yang sudah seru, malah menjadi redup dan kurang tergali, karena saya malah keasyikan menikmati fakta dan informasi sejarah dan budaya yang sangat melimpah sepanjang novel ini.

Tapi “selisih” juga yang menjadi amanat utama novel ini.

Pesan utama yang saya bisa simpulkan adalah kadang amanah bisa berbalas khianat, saudara bisa menjadi musuh, kawan bisa menjadi lawan.

Di dunia nyata kita memang harus baik, harus punya idealisme memenuhi prinsip hidup yang kita pegang. Kita harus belajar mempercayai dan mempercayakan sesuatu kepada orang lain, tapi harus selalu diiringi kewaspadaan juga.

Karena orang terdekat, bahkan saudara pun, bisa melanggar amanah dan berkhianat. Istilah bahasa Inggrisnya: “Never let your guard down” atau “always be cautious”. Dan “Jasmerah”, Jangan Melupakan Sejarah, karena Perang Diponegoro inilah cikal bakal kemerdekaan Indonesia yang kita cinta.

Saya ragu untuk menentukan siapa sebenarnya tokoh utama yang lebih utama di dalam novel ini, Apakah Katib atau Nurkandam. Bahkan seringkali saya berpendapat kalau Pangeran Diponegoro tidak hanya menjadi cameo saja, tapi benar-benar mewarnai dan mengiringi perjalanan panjang Katib dan Nurkandam.

Dua Janissary terakhir lainnya, Orhan dan Murad, kurang mendapat porsi yang cukup, terkesan hanya menjadi pelengkap petualangan Katib dan Nurkamdam.

golagong

Duta Baca Indonesia 2021-2025 - Penulis 125 buku - Motivator Menulis - Pendiri Rumah Dunia

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==