Kisah mereka berjalan seiringan, tapi di wilayah “kasih”, Katib lebih beruntung karena dia sudah menikah dengan Nuryasmin. Tidak seperti Nurkandam yang masih digelayuti kebimbangan antara Sofiyati dan Siti Fatmasari.
Ustadz Salim sangat cerdas untuk menyebar adegan- adegan “besar” di dalam novel ini. Ketika mulai bosan dengan beberapa bab yang terkesan hanya “ngobrol” dan “bercerita di dalam cerita”, tiba-tiba muncul kejutan-kejutan yang seru dan mengasyikkan.

Sepanjang novel ini kita akan dihantui oleh tandatanya besar: “siapa sih pengkhianat terbesar sebenarnya?”
Karena ada yang sejak awal sudah secara terang benderang disajikan dan ditampakkan.

Dan ada juga pengkhianat yang tersimpan rapat-rapat sampai adegan puncak yang walau pun terasa kurang “epic” tapi lumayan memuaskan, karena dia akhirnya mendapatkan balasan yang setimpal atas fitnah kejinya.
Selama beberapa bab juga, saya sempat berburuk sangka kepada Katib dan Nurkandam sekaligus, tapi tidak bisa memutuskan siapa yang sebenarnya adalah pengkhianat.
Penasaran kan?
Segera pesan novel ini dan selamat menikmati “petualangan Nurkandam dan Katib dari Pulau Jawa ke Istanbul dan ke Pulau Jawa lagi untuk menikmati indahnya dan serunya penuturan kisah, kasih dan selisih dalam Novel Sang Pangeran dan Jannisary Terakhir.
Di sudut utara Qatar, 24 Desember 2019



