Kami saling melengkapi, mencukupi. Masih jauh dari sempurna. Makanya aku banyak-banyak mencium punggung tangannya di setiap kesempatan, sebagai ungkapan permintaan maaf.
Literasi Keluarga: Traveling Berdua dengan Hubby

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Kami saling melengkapi, mencukupi. Masih jauh dari sempurna. Makanya aku banyak-banyak mencium punggung tangannya di setiap kesempatan, sebagai ungkapan permintaan maaf.

Kulinerannya jangan jauh-jauh. Dapur Meneer di Sempu, cozy banget. Banyak spot foto yang instagramable.

Aku mau balas kesal, tapi paham kondisi beliau sedang menahan nyeri. Gak guna mara-mara sama penderita sakit gigi, kan.

Aku yang keras kepala mendebat dan bertanya lebih dulu, sedangkan hubby punya kesempatan latihan presentasi dengan aku sebagai teman bertanding, mendengar dan menanggapi pro dan kontra.

Rumah Dunia adalah intreior besar sebuah rumah yang saya hadiahkan kepada mereka. Alhamdulillah, mereka bahagia di sana.

Meja makan kami besar untuk 10 orang, menempel ke dinding belakang. Bapak, emak, kami anak-anaknya berlima, dan 3 keponakan Emak yang ikut bersama kami.

Bertebaranlah di muka bumi. Jangan jadi katak dalam tempurung.

Ruang kerja yang menginspirasi sangat penting bagi Gol A Gong. Tentu harus banyak buku berjejer, karena itu memancing pikiran dan imajinasinya dalam menulis.

Gabriel Firmansya, putra kedua kami, sudah 11 tahun di Abu Dhabi. Sedang menyusun skripsi. Doakan, ya.

Kami tahu, bahwa literasi keluarga harus dibangun dengan saling mempercayai. Keluarga yang saling menghargai adalah fondasi awal untuk meningkatkan budaya literasi di era digitalisasi.

Jangan membuat penjara buat si anak saat belajar. Temani, ikuti, dan beri semangat. Si anak pasti akan bahagia mencari ilmunya.

. Kita tetap Islam – itu bagian dari hamblum minnanas. Kami juga memberi tahu, bahwa ada 1Muharam – tahun baru Islam. Kami juga merayakan tahun baru Islam.

Minggu pagi sarapan apa? Kulineran di kota? Atau pesta di rumah saja?

Aduh, ini sih durian runtuh. Di akhir tahun 2023 dapat hadiah gede.

Dua anak laki-laki kami sudah lepas dari busurnya. Semoga merkea tepat menancap di sasaran yang mereka inginkan.

Paket papan catur tiba juga. Tapi giliran mau main, claka! Dua kuda dan 2 menteri raib.

Ketika saya menikah, 1996, mobil si Merah masih ada. Sudah sering mogok-mogokan. Ketika kami punya anak dua; Nabila, Gabriel, si Merah sempat saya rawat hingga tahun 2001.