Setiap pergi, tentu akan muncul rasa rindu untuk pulang. Tapi kita ini rindu yang tersayang atau rindu kampung halaman?
Puisi Gol A Gong: Aku Ingin Pulang

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Setiap pergi, tentu akan muncul rasa rindu untuk pulang. Tapi kita ini rindu yang tersayang atau rindu kampung halaman?

Puisi Minggu Edisi 44/I/3 November menampilkan 5 Puisi Muhammad Gibrant Aryoseno tentang Kaidah Dunia. Seduh kopi terbaikmu dan nikmati puisi-puisinya.

Wandi merasa bersyukur karena istrinya langsung diurus, tapi menyesal karena menggunakan kartu miskin atas nama istrinya. Harga dirinya sebagai suami merasa direndahan, tapi tidak punya pilihan lain. Ah, kenapa dia tidak segera mengurus asuransi? Padahal itu fasilitas dan hak yang harus dia dapatkan.

Jika laut bisa berbicara, pasti akan terhidang di meja makan kisah sedih keringat nelayan yang rasanya asin. Ikan di lautan tidak membuat makmur nelayan.

Puisi Minggu edisi 43/I/27 Oktober 2024 menayangkan 5 puisi MN Fazri tentang negeri ini. Fenomena politik, ekonomi, soial, dan budaya jadi ie untuk membersihkan kegelisahannya lewat puisi. Siapkan kopi terbaikmu dan nikmati puisinya.

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, dan manusia mati meninggalkan nama. kira-kira, apa yang akan ditulis di batu nisa kita setelah dikuburkan?

Bagaimana kita merawat kota atau kampung halaman yang kita cintai? Jika kita menjaganya kemudian sahabat kita merusaknya, apa yang harus kita lakukan? Meninggalkan kota?

Kali ini silakan menikmati Puisi Gol A Gong: Kota Ini Sudah Milikmu. Ini tentang kota yang tak lagi jadi milik kita. Semua milik kita dirampas oleh raja-raja kecil.

Pernahkah kamu menyadari, bahwa dirimu diperalat tau diperbudak jabatan? Pernahkah kamu menemukan orang-orang yang kosong jiwanya karena yang ada di kepalanya adalah tahta dan harta?

Saat perayaan dan pelangi jatuh di kota kita, semua menganggap kita adalah pemilik atau tuan di tanah sendiri. Tapi setelah pesta usai, kursi-kursi terisi, kita gigit jari. Semua harapan menguap ke udara.

Pernahkah kamu mengamati dengan cermat kotamu? Kampung halamanmu? Pernahkah kamu menyadari, bahwa pemimpinnya tidak amanah, jalanan rusak, sampah bertebaran di mana-mana, dan ko fasilitas publik yang tidak ada? Itulah bahan-bahan untuk menulis puisi.

Kota yang kita sayangi kadang dirusak oleh satu golongan, segelintir orang dengan satu kepentingan besar, yaitu memperkaya diri dan melanggengkan kekuasaan.

Kali ini Muhammad Gibrant Aryoseno masuk Klab Penulis. Semoga semakin kreatif dan produktif berkarya.

Puisi Minggu antreannya panjang. Mohon maaf, bersabar. Sekarang edisi 37/I/15 September 2024. Giliran Faris Al Faisal, penyair dari Indrmayu. Selamat menikmati puisi-puisinya.

Dalam konteks di atas, saya bersyukur diberi anugerah untuk mencintai buku-buku.
Buku apapun itu, tanpa peduli bentuk dan genrenya. Sejak kecil, buku selalu berhasil memikat
dan membuat saya terpukau. Tidak hanya isi, pengarang, atau sampulnya, saya juga sering
terpesona dengan aroma kertas -apalagi buku lawas-, sejarah, hingga segala hal yang
berkaitan dengan buku.

Puisi Minggu semakin diminati. Tidak terasa sudah edisi 35/I/1 September 2024. Kali ini 5 Puisi Tampu Bolon Sivardi tentang Musi Rawas. Lahir, besar, dan berdikari di Karang Anyar Musi Rawas Utara Provinsi Sumatera Selatan. Siapkan kopi terbaikmu. Seduh dan hirup dengan bebas.

Puisi Minggu edisi 34/I/25 Agustus 2024. Terus bergulir memunculkan nama-nama baru dari seluruh kota di Indonesia. Kali ini Imam Khoironi dari Lampung. Selamat menikmati dan seduh kopi terbaikmu.