Umur saya sekarang sudah 61 tahun. Dari Sabang hingga Merauke, kota demi kota sudah aku susuri. Aku menemukan banyak peristiwa; orang-orang pergi dan pulang untuk sesuatu yang mungkin masih berupa harapan. Menyaksikan orang mengumpat, saling sikut berebut kursi, dan berlomba menertawakan kesalahan orang tanpa menyadari dirinya juga pantas ditertawakan. Bacalah:

KOTA TAK BERNYAWA
Ketika di dalam kereta, aku tak sanggup melihatmu dari jendela. Stasiun bukan lagi perhentian. Ia jadi pemberangkatan. Lihatlah, bangku di depanku kosong. Untukmu. Kau ada di peron? Bahkan senyumanmu tertelan kabut kota. Kau sibuk dengan perayaan. Pelangi telah jatuh di kota. Kau salah satu warnanya. Senyummu di setiap persimpangan. Wajahmu jadi penuh debu. Usang dalam kiasan. Sudah lama kota kita tak bernyawa. Tadinya kita akan melahirkan kota baru. Senja terlalu cepat datang. Kita bergegas ke kamar tidur. Terkurung dalam ketakutan.
*) Serang, 9/1/2016



