Lebaran 2024 yang jatuh pada hari Rabu 10 April tanpa Emnak. Saya kangen sekali. Ketika Emak wafat, 21 Juli 2022, saya sedang di |Ambon dan tidak bisa pulang.
Lebaran 2024 Kangen Emak

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Lebaran 2024 yang jatuh pada hari Rabu 10 April tanpa Emnak. Saya kangen sekali. Ketika Emak wafat, 21 Juli 2022, saya sedang di |Ambon dan tidak bisa pulang.

Suatu pagi, suamiku berkata, “Ini banyak mainan Bella dan Gab yang sudah rusak, dikumpulkan dan disimpan di Rumah Dunia, ya? Nanti Papah belikan lagi yang baru.

Apa kue favoritmu saat lebaran? Pasti nastar, ya? Kalau saya Khong Guan dan kue gipang? Apa itu kue gipang?

Aku berkilah orang bisa menganggap kami terkait Partai Rakyat Demokrat pimpinan Budiman Sujatmiko – partai yang sedang naik daun. Masalahnya partai itu dipandang vokal terhadap kebijakan pemerintah dan isu-isu politik, aku khawatir Rumah Dunia akan terkena imbasnya.

Suatu sore aku melihat antrean anak-anak di depan kamar mandi. Ada sekitar lima belas anak berdiri di depan pintu. Aku heran mengapa anak-anak itu jadi pipis berjamaah begitu.. Rupanya kamar mandi baru daya tariknya.

“Kakek buyut Aa atau kakeknya Emak memang dari Labuan,” begitu kata Emak atau Nek, panggilan ibu mertuaku. “Karena dikejar tentara Belanda waktu penjajahan, kakek buyut lari ke Sumatera,

Setelah har pertama halal bihalal dengan keluarga Pak Murji – besan dari Teh Dian, kami harus menyiapkna hiburan untuk halal bihalal keluarga ka mi – Haris dan Atisah, Jum’at 12 April 2024.

Saya dan Jordy tentu gembira, karena spot-spot fotonya dipakai untuk selfie dan wefie. Jum’at besok, H3 Lebaran, tepatnya 2 April 2024, keluarga besar kami – Haris Sumantapura, akan datang halal bihalal.

Sebagai penyeimbang asupan supaya tidak oleng, sayur tetap aku konsumsi. Maka jangan heran ada sayur sop dalam piringku bersama gemblong dan rabeg.

Ada 44 bab dalam buku ini yang mudah dipahami, padahal isinya sarat istilah medis. Banyak yang bertentangan dengan kebiasaan dan mitos, tapi logis menurut kesehatan. Misalnya saat mimisan, siapa masih suka mendongakkan hidung, berharap darah berhenti

“Papah ingin Banten ini maju. Kita mulai dari anak-anak kecilnya. Kita ajarin banyak ilmu, supaya kelak mereka bisa membangun Banten dengan cara mereka sendiri.” Lanjut suamiku.

Saya dan Tias Tatanka sudah sepakat, bahwa tidak akan mengekang mimpi mereka. Jordy sekarang kuliah di Akademi Film Yogya dan si bungsu di Sastra Korea, UPI, Bandung. Bahkan ketika keempat anak kami mengatakan, “Kami tidak akan tinggal di Serang. Nanti kami akan transfer bulanan, membantu Rumah Dunia,” itu sudah merupakan sikap optimis.

Awalnya anak-anak masih kecil. Mereka kita rawat dan didik penuh kasih sayang. Setelah dewasa, kita harus iklas mendorong mereka untuk melihat dunia. Dalam Islam, saat lebaranlah berharap keluarga berkumpul lagi. Saling memaafkan. Insya Allah.

Sejak kecil yang paling saya suka adalah hidangan kue-kuenya. Sangat beragam. Ini adalah tradisi sekaligus ragam rasa kuliner nusantara. Perlu kita rawat dan lestarikan.

Lebaran sehari lagi. Semua sudah menata hidangan di meja makan, di ruang tamu. Kue kering, ketupat, juga opor ayam. Semua umat Islam di seluruh dunia merayakan kebahagiaan ini. Semoga yang sakit disembuhkan, yang bersedih bergembira.

Kami pun sering menggelar tikar dan sarapan pagi di teras semen itu. Kelelawar berangsur pergi, mencari tempat sunyi lainnya. Ah, siapa menyangka rezeki 100 meter kemudian menjadi 500 meter persegi. Tanah di halaman belakang kini semakin luas.

Benarlah, ada banyak kemudahan dalam mendapat rezeki, sehingga kami dapat membereskan tanah belakang rumah. Suamiku menjebol dinding dan memasang pintu besi sebagai akses. Kami seperti melangkah ke dunia yang lebih luas: seratus meter tanah kosong.