Saya teringat Bapak dan Emak. Ketika kecil, kami diberi izin untuk menyalakan kembang api. Kami memegangnya dan memutar-mutarnya dengan gembira. Kami tinggal di komplek, sehingga tidak mungkin menyalakan petasan. Tapi kembang api yang kami pegang itu mengeluarkan percikan cahaya putih sudah cukup menggembirakan hati kami.

Itu terus berlangsung hingga kami berkeluarga. Bapak sejak 2002 tinggal bersama kami di raeal belakang. Kami membangun sebuah rumah mungil buat mereka; setiap sore mereka berinteraksi dengan anak-anak yang datang ke Rumah Dunia. Jika sehari sebelum puasa, mereka membagi-bagikan sembako bagi aum dhuafa.

Hingga Bapak wafat pada 17 Desember 2007. Tinggal Emak sendirian. Cucu-cucu dari kelima anaknya berdatanga menyalakan kembang api. Bahkan beberapa cucunya mulai memberikan cicit. Dan semuanya berakhir pada 21 Juli 2023. Emak menyusul Bapak.

Kini tak ada lagi kembang api di rumah. Bapak dan Emak telah pergi. Di rumah pun tak komplet lagi. Nabila, Jordy, dan Natasha. Putra kedua – Gabriel, tidak pulang, karena menyelesaikan skripsi di Abu Dhabi.

Semoga sebulan penuh berpuasa membawa kebahagian dan kemenangan yang hakiki. Selamat lebaran, 1 Syawal 1445H. Saya dan keluarga mohon maaf lahir batin. Kesehatan, keselamatan, karir yang sukses, dan rezeki berlimpah membawa manfaat buat kita semua.

Salam buat keluarga .
Terima kasih selalu mendukung kami dan Rumah Dunia.
Gol A Gong
Duta Baca Indonesia 2021-2025


