Dan persoalan “bahasa senyuman” itu, menurut Bapak dan Emak, ternyata sudah saya mulai ketika saya baru terbangun dari operasi yang panjang, sekitar 6 jam – dari pukul 01.00 – 07.00, setelah tangan kiri saya diamputasi. Kata mereka, mestinya orang yang baru kehilangan satu organ tubuhnya itu menangis.

Kisah Emak, “Kalau saat itu kamu nangis melihat tangan kirimu diamputasi, Emak sama Bapak pasti akan merasa bersalah sepanjang hidup.”
“Tangan Heri panjang lagi nggak nanti, Mak?” begitu saya bertanya waktu itu, cerita Emak lagi.
Jawab Emak, “Iya. Tangan Heri nanti panjang lagi.”

Tentu tangan saya tidak panjang lagi. Ya, saya hanya kehilangan beberapa kilo daging saja tetapi mendapatkan banyak anugrah terindah dari “bahasa senyuman” itu. Saya memaknainya, bahwa tangan kiri saya sesungguhnya panjang lagi. Dan tangan kiri saya itu panjang hingga ke kakak, adik, saudara, teman, sahabat, tentu sekarang istri dan keempat anak saya. Kita hidup tidak bisa sendiri, harus tolong-menolong.

Obrolan saya dengan Bapak dan Emak itu berlngsung di meja makan, saat sarapan. Pagi hari memang sangat memungkinkan untuk berkumpul bersama seluruh keluarga. Kami memulainya saat saraan. Bapak dan Emak memeriksa wajah kami satu persatu, apakah ada yang memulai hari dengan bersedih? Jika ada, maka kami harus menceritakannya.
Begitulah kekuatan “bahasa senyuman”. Jangan sampai hilang di bibirmu. Di wajahmu. Sungguh, kata orang saya tidak tampak seperti berumur 70 tahun, karena saya selalu memakai jurus “bahasa senyuman”.
Kalau kamu?


