Di masyarakat secara umum memang hanya memikirkan makan dan perut kenyang. Mereka rata-rata tidak memiliki anggaran untuk membeli buku (walaupun untuk kuota internet dan rokok ada). Padajal UNESCO menyarakan kepada kita agar dalam 1 tahun membaca 3 buku.

Perpusnas sudah berusaha merevitalisasi perpustakaan di seluruh Indonesia sehingga masyaraat yang tidak mampu membeli buku bisa dengan gembira datang ke perpustakaan untuk membaca. Begitu juga masyarakat secara perorangan atau kolektif mendirikan taman bacaan masyaraat.

Intinya adalah kita tidak cukup haya memberi maan sebatas tenggorokan ke perut sehingga nanti akan berakhir di jamban. Tapi berilah makan dari kerongkongan ke kepala dengan cara membaca. Otak perlu diberi nutrisi bacaan agar kita memiliki investasi untuk masa depan.


