Setelah melewati proses penjurian di babak penyisihan, telah terpilih 10 peserta pembacaan puisi, lalu kesepuluh finalis ini telah menunjukkan kemampuan pembacaan puisinya secara langsung di hadapan para juri pada siang hari di tanggal yang sama. Tahun ini, Jose Rizal Manua, Iman Soleh dan Fatin Hamama yang memilih 10 finalis tersebut dengan kemampuan pembacaan puisi terbaik dari 813 peserta yang mendaftar dengan mengirimkan video pembacaan puisi.

Para peserta diminta membacakan dua puisi; pertama puisi wajib berjudul “Membaca Tanda-Tanda” karya Taufiq Ismail dan puisi pilihan yang dibaca setiap peserta pada saat mengirimkan video puisi untuk penyisihan.
Toto ST Radik, perwakilan asal Serang, Banten muncul sebagai 7 Finalis Terbaik di antara peserta yang terpilih dari berbagai daerah lainnya.

“Alhamdulillah, pengalaman pertama ikut lomba baca puisi tingkat nasional setelah sekian puluh abad menekuni jalur penulisan. Lumayan bisa 10 finalis meski tak jadi juara karena agak lama mengatasi kegugupan dan besarnya panggung di Teater Besar TIM,” ungkap Toto.
Finalis Terbaik lainnya adalah Akhmad Benyamin asal Pontianak, Arif Rahmanto asal Yogyakarta, Erni Setia Putri asal Pontianak, Irfan Hakim asal Jakarta, Mohammad Nuruddin asal Madura, Nanang Maulana asal Tasikmalaya. Masing-masing mendapatkan piala beserta uang sebesar 4.250.000 rupiah.

Sementara juara 1 diraih oleh Ersya Nurul Ihza asal Kuningan dengan hadiah sebesar 15.550.000 rupiah, juara 2 Khairul Fiqih Firmansyah asal Jakarta 12.960.000 rupiah, dan Seni Handiyani asal Bandung 10.360.000 rupiah. (dhe)



