Sepanjang penerbangan, turbulensinya membuat kami berpegangan tangan terus. Kami pasrah jika harus dipanggil Tuhan saat itu. Keempat anak kami jadi yatim-piatu. Tapi, alhamdulillah, sekitar pukul 07:00 pesawat mendarat. Udara di bulan Februari cukup sejuk.

Kami dipandu oleh teman-teman FLP Hong Kong dan murid menulis online kami – Jenny Ervina, juga kenalan baru Lila – pelukis, sehingga jadi mudah traveling di Hong Kong. Bahkan dengan membaca papan petunjuk saja kita tidak akan tesesat walaupun baru pertama kali ke Hong Kong.



