Kami sepakat makan di Teras Malioboro 2, yang dekat dengan mulut jalan Sosrowijayan. Gerai makanan ada di bagian belakang dan di kepalaku sudah membayang gudeg komplit.
Hal yang tanpa kusadari, lidahku otomatis bicara dengan Bahasa Jawa halus sejak menginjak Yogya. Lucunya, yang kuajak bicara cenderung bertahan dengan Bahasa Indonesia. 😂

Aku jarang berbahasa Jawa, apalagi tingkatan halus, karena hubby yang Sunda akan “roaming” mendengarnya. Beliau paham sedikit Bahasa Jawa pasaran untuk percakapan dengan yang usianya sepantaran, tidak layak digunakan kepada yang lebih tua.
Jalan tengahnya, hubby minta aku pakai Bahasa Indonesia saja, terutama saat menghadapi para pelaku ekonomi. Aku oke saja karena menghormati dan menghargai beliau. Meskipun secara otomatis hubby pun sesekali menceletuk dalam Bahasa Jawa “ngoko” ke penjual makanan. Aku jadi pengin “hiiih” ke beliau saking gemas mendengar pilihan katanya yang terdengar kasar di telingaku. 😂

Itu foto makanan pesananku, walau di luar ekspektasi, tapi harus diterima. Yang penting sudah diturutin sama Allah, aku kan pengin makan gudeg. Harusnya tadi aku bisik-bisik lebih detil lagi, pengin gudeg Yogya yang macam apa. 😂
Sudahlah, tidak boleh mengeluh, harus bersyukur banyak-banyak. Tidak boleh mengeluh juga ketika kemudian terjebak kesejukan Yogya yang kelewatan. Hikmahnya kami jadi bisa berbincang dengan pengojek payung yang payungnya segede gaban.
Tias Tatanka


