Kali ini untuk yang entah keberapa kali, aku datang ke Kota Palembang. Tepatnya Selasa 22 November 2022. Aku bersama Toto ST Radik, Rahmat Heldy, Ahmad Wayang, dan Rudi Rustiadi. Kami tur Sumatera menuju Padang Panjang untuk mengikuti Temu Penyair Asia Tenggara di Padang Panjang.
Setelah selesai kegiatan di kampus UIGM, kami diajak Hardi Saputra, pendiri Komunitas Sobat Literasi Palembang, “Kita makan makan siang di rumah makan terapung, ya!” Di mana itu? “Di sungai Musi. Rasakan sensasinya ya, makan sambil bergoyang-goyang,” kata Hardi.

Tentu saja ini bukan hal baru bagiku. Karakter rumah makan di sungai memang pasti terapung. Aku pernah makan di warung terapung ketika traveling di Kalimantan, aku sering makan di warung terapung. Di Banjarmasin, Pontianak, dan Palangkaraya.
“Menunya apa?” Ingin tahu? “Pindang patin!”
Di Sumatera kuliner ikan patin memang sudah sangat familiar. Tapi bagi relawan Rumah Dunia seperti Ahmad, ini pertama kali. Kata Wayang, “Ini pertama kali ini makan di rumah makan terapung atau makan di perahu bergoyang.”
Rasa pindang patin begitu enak dan segar. Sambalnya terasa pedas pas, dengan tambahan nanas yang membuatnya jadi terasa asam-asam-pedas dan gurih. Saya pun sampai beberapa kali menambah nasi. Selain itu tersedia sambal lain dengan potongan buah mangga dan lapapan.
Mobil dinas Duta Baca Indonesia meluncur ke parkiran di Benteng Kuto Besak. Rahmat Heldy yang menyetir. Lalu lintas tidak begitu macet. Setelah mobil diparkir, kami menyusuri sungi Musi. Berfoto dulu dengan latar belakang jembatan Ampera yang merah gagah.

Di pinggir sungai Musi, di antara perahu-perahu kayu yang ditambat, ada bangunan berupa rumah-umah dari kayu, bergoyang-goyang karena terkena riak ombak yang ditimbulkan oleh perahu kayu bermotor. “Warung terapung Mbok War,” aku membacanya begitu ketika Hardi meniti jembatan papan menuju bangunan berwarna merah bata.
Kami mengikutinya. Ada beberapa meja yang sudah erisi. Di pojokan masih tersisa satu meja makan. Ruangan ini seukuran 6 X 5 meter. Jendelanya terbuka. Dapurnya juga di bagian belakang.
Tanpa perlu memesan, pelayan datang menyuguhkann piring dengan nsainya. Kemudian 5 kangkuk pindang patin berkuah. Selera makanku menyala. Aku rasa semuanya makan dengan lahap. Kami merasa kenyang. Sudah pukul 15.00 WIB. Makan siang yang menggairahkan. Tubuhku terasa segar.


