Driver grab mengajak kami ngobrol, yang kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia kurang lebih menjadi seperti ini:
Driver: “Dari Indonesia? Sudah berapa lama di Malaysia?”
Kami: “Ya betul, dari Indonesia. Kami sampai di Malaysia kemarin. Sebelumnya kami dari Singapore”
Driver: “Wah, Singapore? Saya saja belum pernah ke sana. Di sana apa-apa serba mahal. Kalian pasti orang kaya. Bos-bos, ya?”
Kami tertawa merespon ucapan dari driver grab tersebut, sekaligus mengaminkan semoga ucapan driver tersebut menjadi kenyataan.

Memang betul, biaya hidup di Singapore itu mahal. Harga makanan bisa 4 kali lipat dari Malaysia. Hotel dengan kelas yang sama, harganya juga 4 kali lipat dari harga hotel di Malaysia. Setidaknya itu yang kami tau berdasarkan pengalaman kami.

Sesampai di Genting Highlands, saya terkagum-kagum dengan megahnya fasilitas di tempat tersebut
Betul-betul wisata kelas dunia. Tidak hanya pemandangan alamnya yang bagus, tetapi wisata indoornya juga bagus. Banyak wahana permainan anak yang canggih-canggih, tempat-tempat belanja dengan brand-brand elite, dan juga banyak cafe dan resto dengan menu dari berbagai negara.

Kami berfoto di tulisan, “I am at the world’s hotel, 7351 rooms”. Saya sedang berada di hotel terbesar di dunia dengan 7351 kamar.

Tidak cukup satu hari untuk dapat menikmati seluruh wahana di Genting. Karena waktu yang singkat, kami hanya foto-foto kemudian makan di salah satu resto. Asam Laksa, Kari Laksa, dan Wanton Mee menjadi menu makanan yang kami pesan.


