Naufal Nabilludin – wartawan golagongkreatif dot com
Sejak minggu lalu, aku sudah merencanakan untuk datang ke Baduy. Selain untuk menikmati alamnya yang masih asri, aku berencana membeli kemeja batik baduy yang akan aku pakai dan kenalkan ketika pertukaran mahasiswa di Gorontalo, Agustus mendatang.

Sabtu malam, 1 Juli 2023 aku menelpon Haikal, teman kuliahku yang tinggal di daerah Bojongmanik, Lebak. Dari rumahnya hanya sekitar 25 menit menuju ke Terminal Ciboleger, pintu masuk menuju kawasan Baduy.


Saat aku telpon, Haikal berada di Stasiun Serang sedang menunggu keberangkatan kereta terakhir, menuju Rangkasbitung pukul 22.19. Aku sampaikan rencanaku ingin berkunjung ke Baduy sekaligus menumpang tidur di rumahnya untuk beberapa malam.
“Boleh Fal, bareng gue aja. Kebetulan gue bawa motor, dititip di Stasiun Rangkasbitung,” kata Haikal di ujung telpon.

Haikal membatalkan perjalanannya malam itu, kami akan berangkat esok hari, Minggu, 2 Juni 2023. Aku menjemput haikal dari Stasiun Serang menuju Rumah Dunia.
Pukul 10.47 kereta yang kami tumpangi berangkat dari Stasiun Serang menuju Stasiun Rangkasbitung. Setelah 1 jam perjalanan, kami sampai di Stasiun Rangkasbitung. Haikal langsung berjalan menuju tempat penitipan motor.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Bojongmanik menggunakan motor Supra X. Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 setengah jam dengan kecepatan rata-rata 60 KM/Jam. Kami sampai di Rumah Haikal di Kampung Pajagan Desa Cimayang Kecamatan Bojongmanik.


Jalan menuju rumah Haikal sebenarnya melewati Simpang 3 Baduy, pertigaan menuju ke Baduy. Namun, kami baru akan pergi ke Baduy esok harinya. Sebab, kami akan beristirahat terlebih dahulu dan menunggu Dika dan Rara yang akan menyusul.
Senin, 3 Juli 2023 pukul 11.30, kami berangkat ke Terminal Ciboleger, pintu masuk Baduy. Kami berjalan perlahan sambil menikmati suasana alam yang masih asri dan aktifitas masyarakat Baduy luar. Sambil sesekali berfoto di leuit, lumbung padi masyarakat Baduy.

Di setiap rumah yang aku lewati, pemandangan perempuan Baduy menenun membuat aku kagum. Mereka lihai menjalin helai per helai benang di pakara tinun, alat tenun masyarakat Baduy. Dari ketekunannya itu, lahir motif-motif khas Baduy yang sederhana, harmonis dan elegan.
Selain menenun, perempuan Baduy juga menjajakan hasil alam dan kerajinan tangan. Seperti gula aren, madu, gantungan kunci, selendang, dan kain tenun.

Diantara rumah panggung yang menjajakan kain tenun, aku terpesona dengan keindahan tenun motif suat songket yang dijual di rumah dengan papan nama “Dewi Baduy”.


Aku terpikat dengan keindahan tenun suat songket yang sudah dijait menjadi outer itu. Perpaduan warna hitam, putih, kuning, dan merah bersatu padu menciptakan keselarasan. Sangat elegan ketika aku mencobanya.
“Kalau yang itu harganya 500 ribu, udah dijait. Kalau kainnya aja 300rb,” kata Dewi, perempuan Baduy yang menjual kain itu.

Ketika aku membuka dompet, hanya ada uang Rp200.000. Harga tenun itu melebihi anggaran belanjaku di baduy. Tapi, aku benar-benar terpikat ketika memakainya, ada kesenangan tersendiri ketika aku melihat hasil foto menggunakan outer suat songket itu.
“Selain elegan, tenun ini punya nilai budaya. Sangat cocok untuk digunakan dan dikenalkan ketika pertukaran mahasiswa nanti,” kataku dalam hati.

Aku sempat bimbang, di satu sisi aku sangat suka sekali dengan outer suat songket itu, di sisi lain budgetku tidak cukup untuk membelinya.


“Apa aku pakai saja uang tabunganku untuk ke Gorontalo?” Tanyaku dalam hati.
Walaupun uang di dompetku hanya Rp200.000. Tapi, aku punya tabungan di bank untuk ke Gorontalo nanti. Walaupun sebenarnya tabungan itu sudah aku rencanakan untuk keperluan lain.

“Di sini bisa transfer juga,” kata Teh Dewi, ketika aku sampaikan bahwa uang di dompetku hanya Rp200.000.
Cukup lama aku memutuskan untuk membeli atau tidak outer suat songket itu. Rp500.000 bukan uang yang sedikit buatku. Butuh waktu lama untuk mengumpulkanya kembali.

“Ini gak bisa kurang lagi Teh?” kataku, berusaha menawar.
“Bisa, paling turun Rp50.000 aja, soalnya bikinnya aja lumayan lama, paling cepat 2 minggu. Apalagi kalau yang warna alami. Prosesnya bisa sampai 2 bulan,” kata perempuan Baduy itu.


Dewi juga sempat menawarkan tenun dengan pewarna alami. Harganya 1 sampai 2 juta untuk kain tenun dengan panjang 2 meteran. Secara tekstur tenun dengan pewarna alami memang lebih halus.
Dia juga menawarkan motif aros dan motif adu mancung yang dijualnya. Motif Aros, warna hitam dengan garis putih-putih tipis, motif ini mengandung arti satu kesatuan kehidupan. Sedangkan motif adu mancung mirip segitiga yang ujungnya saling bertemu, tetapi motifnya hanya berada di kedua ujung kain.

Namun, aku lebih terpikat dengan motif suat songket. Aku bertanya apa makna filosofis dari motif suat songket ini.
“Kalau yang ini varian baru, motif suat songket gak ada makna khusus,” kata Dewi.
Aku coba memastikan dengan membaca kajian tenun Baduy, yang ditulis oleh Ari Arini Putri Megantari dari Universitas Sebelah Maret.


Kajian itu menjelaskan motif suat songket memang tidak memiliki makna khusus. Namun, jika ditelisik dari warna suat songket tradisional mirip seperti motif aros, dengan perpaduan warna hitam dan putih. Yang menggambarkan satu kesatuan hidup. Hanya saja, motif suat songket sekarang lebih banyak variasi, baik dari segi warna maupun ukurannya.

Aku coba menawar sekali lagi, karena aku benar-benar terpikat dengan outer suat songket yang mirip kimono itu.
“Gak bisa turun lagi nih Teh? Kalau Rp400.000 mau beli,” kataku menawar lagi.

“Yaudah deh boleh,” kata Teh Dewi, sambil menunjukan nomor rekening di handphonenya.
“Ini pakaian paling mahal yang pernah gue beli sampai saat ini,” kataku kepada haikal.
Tidak lama, aku langsung transfer ke rekening BRI miliknya dan meminta tolong Haikal memfotoku dengan Teh Dewi sambil mengenakan outer suat songket baruku.

Selain berjualan secara offline, Teh Dewi juga sudah menjual hasil bumi dan kerajinan tangannya secara online di instagram dengan username @dewi.marsella507, pengikutnya sudah 11 ribuan.
“Ini salah satu selebgram Baduy, Fal, masih ada yang lebih banyak lagi followernya. Coba aja cek Instagram @tehayubaduy, pengikutnya lebih dari 90 ribu” kata Haikal memberitahuku.



