Wisata Kuliner Alun-Alun Kota Serang: Apakah Sudah Layak Jadi Wisata Kuliner?

Gapura itu terbuat dari besi dan kayu, dengan tulisan “Wisata Kuliner Alun-Alun Kota Serang”. Sekilas, gapura ini memberikan kesan bahwa saya akan memasuki sebuah area yang penuh dengan ragam kuliner khas daerah. Namun, setelah masuk, kenyataannya tidaklah demikian.

Setelah melewati gapura, saya melihat deretan kios yang berjejer. Ada sekitar sepuluh kios di sana, tetapi hanya lima yang buka saat itu.

Kios-kios ini berupa bangunan sederhana, dengan dinding yang terbuat dari semen dan kayu serta atap seng. Salah seorang pengunjung yang saya ajak mengobrol sempat bercerita bahwa saat hujan disertai angin kencang, ia pernah melihat atap seng salah satu kios beterbangan terbawa angin. Kondisi fisik kios yang kurang terawat ini memberikan kesan bahwa kawasan ini belum sepenuhnya siap menjadi pusat wisata kuliner yang menarik.

Namun, yang lebih mengecewakan bukan hanya kondisi fisik kios, melainkan juga jenis makanan yang dijual. Dari lima kios yang buka, hampir semuanya menjual makanan dan minuman yang seragam: minuman kemasan seperti air mineral, teh, dan kopi, serta makanan instan seperti mi instan dan pop mie. 

Ada dua kios yang sedikit berbeda karena juga menjual seblak dan sosis, serta satu kios yang menjual jus buah. Sayangnya, tidak ada satu pun makanan khas Serang yang bisa saya temukan di sini.

Ketika mendengar kata “wisata kuliner,” saya langsung membayangkan ragam makanan khas daerah yang dapat dinikmati pengunjung. Kota Serang sebenarnya memiliki kuliner lokal unik, seperti sate bandeng, rabeg, ketan bintul, uli, baso ikan, dan bontot ikan payus. 

Namun, tidak satu pun dari hidangan-hidangan ini tersedia di kawasan yang disebut “wisata kuliner.” Akhirnya, tempat ini lebih menyerupai warung kopi dengan mi instan daripada destinasi kuliner yang mengundang rasa penasaran.

Saya mulai bertanya-tanya, mengapa kawasan ini diberi nama “Wisata Kuliner Alun-Alun Kota Serang,” padahal tidak ada hidangan lokal yang dijual? Salah satu alasan yang mungkin adalah karena wisatawan yang datang ke Serang cenderung langsung menuju Masjid Agung Banten di Kelurahan Kasemen, yang hanya berjarak 10 kilometer dari alun-alun. 

Masjid Agung Banten adalah salah satu destinasi wisata religi yang terkenal, sehingga para wisatawan biasanya tidak berhenti di alun-alun untuk berburu kuliner. Di sisi lain, masyarakat lokal yang datang ke alun-alun biasanya hanya untuk berolahraga atau sekadar berjalan-jalan, bukan untuk berburu makanan khas.

Untuk mendapatkan pandangan yang lebih jelas, saya memutuskan berbincang dengan salah satu penjual di sana. Namanya Bu Sri, seorang pedagang yang baru sebulan berjualan di kawasan kuliner ini. Bu Sri mengatakan bahwa meskipun banyak orang yang datang ke alun-alun untuk berolahraga atau berkumpul bersama keluarga, jumlah pembeli yang datang ke kiosnya tidak terlalu banyak. 

“Pengunjungnya ramai, tapi jarang yang benar-benar membeli makanan,” katanya dengan wajah yang tampak kecewa.

Dari perbincangan dengan Bu Sri, semakin jelas bahwa kawasan ini memang belum sepenuhnya memenuhi tujuan sebagai tempat wisata kuliner. Jumlah kios yang terbatas, variasi makanan yang kurang, serta tidak adanya kuliner khas Serang membuat tempat ini kehilangan potensi yang seharusnya bisa dikembangkan. Sebagai pengunjung, saya merasa sedikit kecewa karena ekspektasi saya tidak terpenuhi.

Setelah selesai berbincang, saya melanjutkan jalan-jalan sore di alun-alun. Pengalaman ini memberikan saya beberapa pemikiran. Saya merasa bahwa kawasan ini mungkin sebaiknya tidak diberi nama “Wisata Kuliner Alun-Alun Kota Serang.” Nama tersebut seolah memberi harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan. 

Sebaliknya, nama yang lebih cocok adalah “Food Court Alun-Alun Kota Serang.” Dengan nama tersebut, pengunjung seperti saya tidak akan datang dengan ekspektasi tinggi untuk menemukan kuliner khas daerah, melainkan lebih mengharapkan tempat untuk menikmati camilan ringan dan minuman yang dijual di kios-kios sederhana.

Pada akhirnya, kunjungan saya ke Wisata Kuliner Alun-Alun Kota Serang adalah pengalaman yang membuka mata. Saya menyadari bahwa terkadang nama suatu tempat tidak selalu mencerminkan apa yang ditawarkan. 

Kawasan ini mungkin belum bisa disebut sebagai destinasi wisata kuliner yang sesungguhnya. Untuk saat ini, lebih baik jika namanya diganti menjadi “Food Court Alun-Alun Kota Serang,” agar sesuai dengan kenyataan dan ekspektasi pengunjung.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

https://www.instagram.com/golagongkreatif?igsh=MXVlZDR5ODlwd3NsdQ==