Social media detox selama Ramadan bukan hanya tentang mengurangi penggunaan media sosial, tetapi tentang mengembalikan kendali atas hidup kita.
Ramadan: Waktu yang Tepat untuk Social Media Detox

Dunia Kata, Dunia Imajinasi

Social media detox selama Ramadan bukan hanya tentang mengurangi penggunaan media sosial, tetapi tentang mengembalikan kendali atas hidup kita.

Melalui novel ini, penulis juga mengingatkan kita agar lebih peduli dan dapat berkontribusi untuk menimimalisir terjadinya pelanggaran-pelanggaran hukum.

Peribahasa “Tercoreng Arang di Muka” ini mengandung pesan moral tentang pentingnya menjaga perilaku karena dampaknya bukan hanya bagi individu tetapi juga keluarga dan lingkungan sosial.

Dari Rumah Dunia dapat ilmu dan wawasan banyak. Nambah jaringan relasi. Diajarkan nulis dari nol sampai bisa. Orang-orang di dalamnya keren-keren dan memotivasi. Terima kasih banyak Rumah Dunia

Di usia 23 tahun, Rumah Dunia terus berkarya, tak mengenal musim, saat hujan saat kemarau sama tantangannya: kritis dan bermanfaat bagi sesama.

Akhir tulisan ini. Persis di ulang tahun ke-23, kami semua di Rumah Dunia mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang selalu mendukung. Hanya gusti Allah yang bisa membalasnya. Insya Allah, apa yang sudah kita lakukan di Rumah Dunia adalah bekal kita di akhirat kelak. Aamiin.

Ada sejumlah perilaku yang membuat seseorang dianggap cerdas dan kredibel oleh orang lain. Apakah perilaku-perilaku ini ada padamu?

Oleh: Zaeni Boli – Ketua Forum TBM Flores Timur, NTT Berdiri sejak 1998, Rumah Dunia telah banyak melahirkan penulis-penulis muda berbakat. Sebut saja Abdul Salam, …

Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang pendidikan dan pembiasaan bagi anak-anak.

Puisi itu ditulis Tias Tatanka di Serang, 20 Agustus 1986, sebulan setelah resmi jadi istri saya. Puisi itu kemudian menghantui saya. Pelan-pelan, apa yang Tias tulis di puisi itu, kami wujudkan sama-sama di sebidang tanah seluas 200 M2 di kampung bernama Ciloang – persis di halaman belakang rumah
Pohon lengkeng, saya tanam. Pohon mangga juga.

Kapankah bangsa ini setidaknya bisa berada di level dua dalam teori ini, yakni memiliki rasa aman?

Aku mengingat tahun 2002 awal bergabung dari anak-anak yang lugu, pemalu, minder, dan gugup berbicara sampai dengan 2013 jadi pemuda yang berani keluar jadi perantau, seolah tidak menyangka perubahan yang aku alami di Rumah Dunia.

Aku mengingat tahun 2002 awal bergabung dari anak-anak yang lugu, pemalu, minder, dan gugup berbicara sampai dengan 2013 jadi pemuda yang berani keluar jadi perantau, seolah tidak menyangka perubahan yang aku alami di Rumah Dunia.

Rumah Dunia bukan hanya komunitas—ia adalah rumah bagi banyak orang. Aku bersyukur bisa menjadi bagian dari perjalanan luar biasa ini.

Daripada kau habiskan waktu diorganisasi kampus, mending kau gabung ke Rumah Dunia. Kau akan menemukan banyak hal yang tak bisa kau temui di kampus.

Sejak 2010, Rumah Dunia menggelar “Nyenyore Rumah Dunia”, yaitu menunggu waktu berbuka puasa sambil berdiskusi. Pesertanya pelajar dan mhaasiswa. Biasanya minimal 25, maksimal 50 peserta hadir. Kami menyediakan takjil dan makannya. Dananya dari kami – para relawan iuran, simpatisan Rumah Dunia.

Saat belajar menulis di Rumah Dunia, para mentor tidak pelit dan merahasiakan bacaan. Mereka justru senang jika peserta kelas menulis juga membaca buku yang mereka baca.