Konsep Dakwah yang Menyesuaikan Zaman
“Menjaga nilai lama yang baik menggali nilai baru yang lebih baik” adalah kaidah ushul fiqh yang selalu dipegang teguh oleh Kyai dan Jamaah Nahdlatul Ulama. Kendati pun sama seperti tokoh Gus Ainu di novel KTP, Ia berdakwah tidak di pesantren tetapi Ia memilih untuk menghidupkan lampu di tempat yang gelap seperti diskotik, tempat hiburan, dan di jalanan. Dari cara dakwahnya yang melawan arus itu, Gus Ainu berhasil diterima meski mengalami perdebatan yang alot dengan rekannya. Jadilah nama perkumpulan melaksanakan pengajiannya disebut dengan JokSin (Pojok Yasin) begitu uniknya Gus Ainu dalam konsep dakwahnya.

Sejalan dengan konsep dakwah menurut Habib Quraish Shihab, bahwa dakwah adalah seruan atau ajakan untuk menuju kepada hal kebaikan dengan cara yang terbaik. Dan berupaya memberi hidayah yakni petunjuk. Dakwah Gus Ainu, mampu menuntun dan membimbing orang-orang yang sudah dianggap ahli maksiat, ahli neraka justru dengan pola dakwahnya mereka bisa menjemput hidayat dan petunjuk menuju-Nya.

Karakter Gus Ainu yang Haus Literasi
Dari karakter Gus Ainu kita bisa belajar bahwa “Belajar yang sesungguhnya adalah belajar untuk mempersiapkan diri sendiri!” saat di pesantren, Gus Ainu selalu mencari celah untuk membaca buku di Perpustakaan Kyai Misbah (Gurunya Gus Ainu) dari perilakunya tersebut menjadikan Gus Ainu dilabeli kutu buku.

Gus Ainu adalah santri yang Open Minded terhadap pendidikan formal. Pada puncak pembelajaran akademisi dan spiritual Gus Ainu ia selesaikan di Maroko bersama Dr Benaisy. Saat berguru dengan Dr Benaisy Gus Ainu selalu bertemu berdiksusi, belajar dengan dosennya di luar jam kuliah. Inilah yang menggambarkan bahwa sosok Gus Ainu adalah karakter yang haus akan ilmu.
Saya sangat suka nasihat Habib Luthfan gurunya Gus Ainu bahwa “Bila ingin sampai di akhir dengan baik, mulailah dari awal dengan benar. Bila ingin sampai puncak dengan selamat, mendakilah dengan cermat. Begitulah Ia memilih yang teruji. (Hal 116)

Membaca novel ini seperti kita akan merasakan menjadi karakter tokoh Gus Ainu menyelami laku spiritual dari pesantren ke pesantren, belajar dari banyak orang-orang tidak memandang siapa pun itu. Karena di dalam novel ini tidak ada hierarki spiritual bahwa “Guru juga murid, murid berarti juga mursyid (guru)” sama persis seperti kata-kata Soe Hok Gie bahwa “Guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid juga bukan seperti kerbau yang selalu nurut!” Jika ingin merdeka maka membacalah!~

Judul Buku: Kyai Tanpa Pesantren
Pengarang: Imam Sibawaih
Penertbit: Telaga Aksara
Cetakan: Pertama
Tebal Buku: 297
Harga Buku: Rp58.000
Pandeglang, Selasa 17 Januari 2022



